10 Pemukim Israel Ditangkap Atas Kasus Penganiayaan Fotografer dan Diplomat
Tentara Zionis Israel di Tepi Barat, Palestina.
Jerusalem (Mediaislam.id) — Kepolisian Israel menyatakan telah menangkap 10 tersangka yang berkaitan dengan gelombang serangan pemukim di Tepi Barat yang diduduki sepanjang akhir pekan. Serangan tersebut termasuk penganiayaan terhadap seorang fotografer asal Amerika Serikat dan para diplomat Eropa.
Para tersangka ditahan pada Senin pagi atas dugaan keterlibatan dalam tindakan kekerasan, pelanggaran perintah zona militer tertutup, dan pembangunan ilegal, kata kepolisian Israel pada hari Senin.
Pihak kepolisian tidak membagikan identitas para tersangka, tetapi Radio Angkatan Darat Israel menyebutkan bahwa mereka semua adalah warga negara Israel.
Penangkapan tersebut bertepatan dengan lonjakan serangan pemukim Israel yang mengganggu musim panen zaitun tahunan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Meningkatnya kekerasan pemukim terhadap warga Palestina telah memicu kecaman internasional. Pemerintah Inggris bahkan mengoperasikannya sebagai bentuk “pembersihan etnis” dan menjatuhkan sanksi terhadap produk-produk dari pemukiman ilegal Israel.
AS Puji Penangkapan
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan melalui platform X pada hari Senin bahwa penangkapan tersebut merupakan “perkembangan yang sangat positif dalam menemukan dan menghukum mereka yang menyerang dan memukuli secara kejam” fotografer Washington Post, Heidi Levine.
Pada hari Jumat, Heidi Levine dipukuli oleh sekelompok pemukim pria di desa Abu Falah, Tepi Barat yang diduduki. Serangan tersebut menyebabkannya mengalami patah tulang rusuk dan tulang belakang.
Ia juga menjalani operasi pada jari tangannya yang hampir putus dan sedang dalam masa pemulihan dari luka tembak atau tikaman di bagian bawah tubuhnya yang memerlukan jahitan.
Sehari kemudian, para pemukim berpenutup muka menyerang para diplomat Eropa yang sedang mengunjungi desa Kristen, Taybeh. Prancis, Belgia, dan Polandia, yang utusannya diserang, turut mendesak Israel untuk mengambil tindakan tegas.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar dan pihak militer menyalahkan “perusuh Israel” atas serangan terhadap para diplomat tersebut.
Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang koalisi keagamaannya diproyeksikan kehilangan mayoritas dalam pemilu 27 Oktober mendatang, menyampaikan pernyataan yang lebih samar.
Netanyahu berdalih bahwa para diplomat memasuki “area sensitif yang memiliki riwayat konfrontasi” tanpa berkoordinasi dengan militer. Ia juga berargumen bahwa fakta serangan terhadap Levine di Abu Falah masih “tidak jelas.” Ketika mendengar peryataan tersebut, Levine mengaku “terkejut dan merasa terhina” atas ucapan Netanyahu.
Kekerasan pemukim terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir di Tepi Barat yang diduduki, di mana kelompok-kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa para pelaku jarang ditangkap atau dihukum atas serangan harian mereka terhadap warga Palestina. [Al Jazeera]
