Tak Peduli Iduladha, Israel Terus Tewaskan Warga di Gaza
Bangunan di Gaza hancur akibat serangan terbaru Zionis Israel. [foto: Xinhua]
Direktur Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa — satu-satunya rumah sakit pemerintah di Gaza tengah yang melayani sekitar 500.000 penduduk — mengumumkan bahwa ruang operasi telah berhenti berfungsi setelah generator cadangan keempat mengalami kerusakan. Unit dialisis, neonatal, dan perawatan intensif juga terancam berhenti beroperasi.
Delapan bulan setelah gencatan senjata, upaya rekonstruksi yang dipimpin oleh Board of Peace bentukan Presiden AS Donald Trump masih terhenti.
Menurut laporan Financial Times, tidak satu pun dari dana bantuan sebesar 17 miliar dolar AS yang dijanjikan telah masuk ke dana Bank Dunia yang disiapkan badan tersebut. Sebagian kecil dana yang sudah disalurkan justru masuk ke rekening pribadi di JPMorgan Chase di luar pengawasan PBB.
Sejak gencatan senjata 11 Oktober hingga 1 Juni, sedikitnya 932 warga Palestina di Gaza telah terbunuh. Sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas mencapai 72.941 orang, dengan banyak jenazah lainnya masih tertimbun reruntuhan.
Tepi Barat: Serangan Pemukim Saat Hari Raya
Di Tepi Barat, libur Iduladha juga diwarnai lonjakan kekerasan pemukim Israel, terutama di wilayah selatan dan desa-desa sekitar Ramallah serta Nablus.
Serangan paling serius terjadi pada 30 Mei di Madama, selatan Nablus, ketika puluhan pemukim dari pos pemukiman ilegal yang baru didirikan menembak dan melukai tujuh warga Palestina.
Tiga bersaudara terkena tembakan peluru tajam dan seorang pria berusia 72 tahun tertembak di kaki. Para pemukim juga mencuri lebih dari 100 ekor domba.
Laporan menyebut tentara Israel ikut menembak bersama para pemukim dan menghalangi petugas Bulan Sabit Merah untuk menjangkau korban.
Pada 31 Mei, pasukan Israel juga menewaskan Imad Ishtayeh (26 tahun) saat ia berusaha melintasi tembok pemisah Israel di dekat ar-Ram untuk mencari pekerjaan.
Di lokasi lain, para pemukim membakar rumah dan kendaraan. Dalam satu insiden yang terekam video, pemukim mendorong mobil seorang warga Palestina ke jurang dekat Deir Abu Mash’al setelah pemiliknya menolak menyerahkan kunci mobil.
Laporan aktivis setempat juga menyebut adanya penggerebekan berulang terhadap komunitas Badui di Masafer Yatta, termasuk penyerangan terhadap seorang perempuan dan cucunya di Khirbet al-Markaz.
Para pemukim juga: Menikam seorang warga yang membela rumahnya di Qusra. Mengejar anak-anak sekolah di Kisan. Menjarah sebuah sekolah yang sedang dibangun di Rammun.
Di Lembah Yordan, tentara Israel bersama pemukim Neria Shalem menyerbu Khirbet Hamsa, sebuah dusun yang masih berusaha pulih dari serangan sebelumnya yang melibatkan penyiksaan seksual dan pencurian 350 ekor domba.
Jaringan aktivis lokal melaporkan bahwa pasukan Israel menutup Masjid Ibrahimi di Hebron selama beberapa hari dan memberlakukan jam malam tiga hari di Beit Ummar.
Video pada 31 Mei menunjukkan puluhan pemukim mengibarkan bendera Israel dan menyanyikan lagu kebangsaan di kompleks Masjid Al-Aqsa, yang memicu kecaman dari Jordan sebagai pemegang hak pengelolaan situs-situs suci di Yerusalem.
Di Yerusalem Timur yang diduduki, sejumlah keluarga dipaksa merobohkan rumah mereka sendiri di Qalandiya dan Beit Hanina. Otoritas kota Israel juga menghancurkan sebuah restoran dekat Gerbang Damaskus serta beberapa rumah di Silwan.
Kampanye penghancuran dan tekanan yang berlangsung selama 18 bulan terakhir itu telah menyebabkan lebih dari 50 keluarga terusir dari Silwan.
Secara terpisah, pada 31 Mei dua remaja perempuan Israel terluka, salah satunya parah, dalam dugaan serangan tabrak kendaraan di persimpangan Gush Etzion, Tepi Barat. Pelaku, seorang warga Palestina dari wilayah Hebron, ditembak mati di lokasi kejadian.
sumber: al jazeera
