Syahidnya Tiga Panglima Rasulullah
Ilustrasi
Kaum muslimin telah bersiap-siap untuk menghadapi mereka dengan menunjuk salah seorang dari Bani Udzrah bernama Quthbah bin Qatadah sebagai komando pasukan sayap kanan, dan salah seorang dari kaum Anshar bernama Abayah bin Malik sebagai komando pasukan sayap kiri.
Kemudian kedua belah pihak bertemu, dan lalu saling serang. Zaid bin Haritsah bertempur dengan membawa bendera Rasulullah Saw (Ar-Rayah) hingga ia menderita banyak luka-luka, dan mengalami pendarahan yang sangat, akhirnya ia pun bertemu Allah sebagai syuhada.
Kemudian, Ja‘far bin Abu Thalib mengambil bendera Rasulullah Saw tersebut, lalu Ja’far bertempur dengan membawa bendera Rasulullah sambil menunggang kudanya berwarna pirang.
Akan tetapi, tidak lama kemudian, Ja’far turun dari kudanya dan menyembelihnya. Lalu Ja’far menyerang musuh hingga gugur. Ja’far bin Abu Thalib berkata:
Betapa indah dan telah dekatnya surga
Keadaannya nyaman dan segar minumannya
Orang-orang Romawi itu sinting dekat sekali siksanya
Mereka itu kafir jauh dari sanak keluarganya
Aku harus menyerangnya jika aku menjumpainya
Ibnu Hisyam menceritakan bahwa Ja’far bin Abu Thalib memegang bendera dengan tangan kanannya, setelah tangan kanannya terputus, ia memegangnya dengan tangan kirinya, dan setelah tangan kirinya terputus, ia mendekapnya dengan kedua lengannya, hingga akhirnya Ja‘far ra gugur dalam usia 30 tahun.
Allah SWT memberinya pahala dalam bentuk dua sayap, sehingga dengan dua sayap itu ia dapat terbang ke mana pun ia mau.
Ketika Ja’far bin Abu Thalib gugur, Abdullah bin Rawwahah segera mengambil alih bendera perang. Dengan memegang bendera perang, ia terjun ke medan perang dengan menunggang kudanya.
Karena ia agak ragu-ragu, maka ia mendorong dirinya dengan untaian-untaian kata berikut ini:
Wahai diriku, aku bersumpah, terjunlah ke medan perang
Atau aku memaksamu terjun, meski kamu tidak senang
Mereka berteriak dan berkumpul mengeluarkan gema
Namun aku melihatmu sedang membenci surga
Sudah sekian lama engkau merasakan keadaan tenang
Tidakkah engkau ini hanya setetes air mani dalam kantong air usang
