Syahid Hadang Teroris di San Diego: Satpam Amin Abdullah Selamatkan Ratusan Nyawa Jemaah Masjid
Amin Abdullah, satpam Masjid San Diego, California, yang syahid karena menghadang serangan dua teroris, Senin (18/05)
Pihak pengelola masjid juga memberikan penghormatan dengan menyebut Abdullah sebagai seorang pria berani yang menempatkan dirinya di garis depan demi keselamatan orang lain, yang bahkan pada saat-saat terakhirnya tidak berhenti melindungi komunitas kami.
Nizam, juru bicara CAIR, mengatakan kepada BBC: “Amin Abdullah dicintai oleh semua orang, ia berdiri di sana hari demi hari, selalu tersenyum, menyambut semua orang, menyambut anak-anak yang datang ke sekolah.
“Ia adalah cahaya yang bersinar. Ia adalah pahlawan sejati, seorang syahid.”
Seorang teman keluarga mengatakan kepada Associated Press bahwa Abdullah dikenal luas di masjid tersebut dan telah mengabdi di sana selama lebih dari 10 tahun.
“Ia ingin membela yang tak bersalah sehingga ia memutuskan menjadi petugas keamanan,” kata Shaykh Uthman Ibn Farooq kepada kantor berita tersebut.
Sam Hamideh mengenal Abdullah melalui aktivitas di masjid tersebut dan mengatakan kepada CBS, mitra BBC di AS, bahwa pria itu akan selalu dikenang karena kebaikannya.
“Tidak peduli siapa yang mendekat… siapa pun bisa datang begitu saja dan [Abdullah] akan menyapa mereka, memastikan mereka baik-baik saja,” kata Hamideh.
“Apakah mereka tunawisma dari jalan yang mencari sesuatu, apakah itu anak-anak atau orang lanjut usia.”
Pada Selasa (19/05) malam, menjelang acara doa bersama komunitas Muslim di San Diego, putri almarhum, Hawa Abdullah, menyampaikan pesan mendalam dari sang ayah.
“Ayah akan ingin komunitas kami berdiri bersama sebagai satu kesatuan,” ungkapnya di hadapan jemaah.
“Itulah warisan yang ia tinggalkan. Dia ingin kita semua menjadi lebih baik, terlepas dari siapa kita, bagaimana kita mengidentifikasi diri,” tambahnya.
Pihak keluarga korban juga menyerukan kepada para pejabat agar berhati-hati dalam membentuk wacana publik tentang komunitas keagamaan.
Dua korban lainnya yang ikut gugur, Mansour Kaziha dan Nader Awad, merupakan jemaah aktif di masjid tersebut, kata Cair-SD.
Mansour Kaziha selama ini dikenal tulus membantu merawat area masjid dan toko serba guna di lingkungan sekitar.
Sementara itu, istri dari almarhum Nader Awad merupakan seorang pendidik yang mengajar di sekolah yang menjadi bagian dari pusat Islam tersebut.
Sebuah gerakan penggalangan dana daring (online crowdfunding) untuk ketiga korban telah mengumpulkan lebih dari US$2,9 juta (Rp51,4 miliar) hingga Selasa (19/05) sore waktu setempat.
