Sumbangsih dan Ketangguhan Shahabiyah di Medan Perang

 Sumbangsih dan Ketangguhan Shahabiyah di Medan Perang

Ilustrasi: Para sahabiyah menjadi perawat bagi pasukan yang terluka dalam peperangan. [AI]

Salah satu kisah kepahlawanan yang abadi adalah keteguhan seorang penyair perempuan bernama Al-Khansa dalam Pertempuran Qadisiyah. Beliau dengan penuh semangat memotivasi keempat putra mudanya untuk maju bertempur di jalan Allah Swt.

Ketika berita mengenai gugurnya keempat putra beliau sebagai syuhada sampai ke telinganya, Al-Khansa tidak meratap atau menangisinya. Beliau justru mengucapkan kalimat yang sangat masyhur: “Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memuliakanku dengan kematian mereka sebagai syuhada!”

Tugas penting lainnya yang diemban oleh kaum perempuan di medan perang adalah mencegah terjadinya kekalahan serta menghalau prajurit yang ragu atau berniat melarikan diri dari pertempuran. Mereka biasanya berdiri berbaris di area belakang pasukan inti sembari membawa senjata kecil.

Jika melihat ada prajurit yang mundur karena takut, para perempuan ini akan langsung menggendong anak-anak mereka yang masih kecil di hadapan para prajurit tersebut. Tindakan ini dilakukan untuk memicu rasa malu dan membakar kembali harga diri pasukan laki-laki agar kembali maju bertempur.

Dalam Pertempuran Yarmuk, Khalid bin Al-Walid sengaja menempatkan barisan perempuan di atas bukit kecil yang terletak di belakang pasukan berkuda. Tugas mereka adalah memukul dan menghalau prajurit muslim yang mencoba mundur dengan menggunakan batu, tanah, serta tiang-tiang tenda.

Meskipun tugas-tugas di atas mendominasi, keterlibatan perempuan dalam pertempuran fisik secara langsung menggunakan pedang tetap menjadi salah satu catatan emas dalam sejarah Islam. Perang fisik ini umumnya dilakukan oleh para perempuan yang memiliki fisik yang kuat serta ketangkasan bela diri yang mumpuni.

Sejarah mencatat bahwa dalam beberapa pertempuran besar, jumlah perempuan yang ikut memegang pedang untuk menghalau musuh bisa mencapai ratusan hingga ribuan orang. Sejarah Islam telah mengabadikan banyak sekali potret heroisme perempuan pada generasi awal ini.

Salah satu figur yang paling menonjol adalah Ummu Umarah (Nusaibah binti Ka’ab) yang tercatat berulang kali menebas musuh dengan pedangnya demi melindungi keselamatan Rasulullah saw. Beliau terus bertempur dengan gagah berani di sekitar Rasulullah saw. hingga tubuhnya menderita luka-luka yang cukup parah.

Ilustrasi: Seorang sahabiyah juga menghunus pedang melawan musuh dalam peperangan. [AI]

Jumlah pasukan muslim dalam berbagai peperangan sering kali jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pasukan musuh mereka. Oleh karena itu, ketika pertempuran sedang berkecamuk dengan sangat sengit, kaum perempuan mengambil alih tugas ronda malam menjaga keamanan barak. Langkah ini dilakukan agar para prajurit laki-laki dapat beristirahat dan tidur dengan tenang demi memulihkan energi mereka.

Dalam Pertempuran Yarmuk, saat seluruh prajurit laki-laki tidur kelelahan pada malam hari, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menolak untuk membebankan tugas jaga kepada pasukannya yang kepayahan. Beliau akhirnya memutuskan untuk memimpin sendiri patroli malam guna menjaga keamanan seluruh kamp militer.

Melihat hal tersebut, Asma binti Abi Bakar segera mengumpulkan kelompok perempuan mukmin untuk ikut berjaga bersama beliau. Pasukan perempuan ini berpatroli mengelilingi barak militer sembari menyandang pedang di pundak mereka.

Pemandangan malam itu terlihat sangat mengagumkan, di mana panglima perang dan putri dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri bersama memimpin ronda malam untuk menjaga keamanan pasukan Islam.

Ilustrasi: Seorang sahabiyah berada di garda belakang untuk mengawasi logistik dan menjaga keamanan pasukan. [AI]

Melalui seluruh catatan sejarah ini, kita dapat melihat bahwa lembaran sejarah Islam ternyata dipenuhi oleh kisah kepahlawanan kaum perempuan yang sangat luar biasa.

Fakta sejarah ini sudah sepatutnya kita tunjukkan kepada generasi muda, khususnya bagi anak-anak perempuan kita saat ini.

Berbagai kisah kepahlawanan putri Islam pada masa lalu merupakan teladan terbaik dalam menumbuhkan semangat jihad dan kecintaan yang tulus di jalan Allah Swt. serta tanah air.[]

Sumber: Tarikhul Ilmi wa Dawrul Ulama al-Arab fi Taqaddumihi, Karya Dr. Ahmad Syauqi Al-Fanjari — (Majalah Al-Arab Edisi 198) — (Dengan Adaptasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − eleven =