Strategi Licik Zionis di Gaza: Bangun Pemukiman Ilegal, Usir Penduduk Palestina
Ilustrasi: Permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.
“Gaza sedang dibuat kelaparan dan kehausan akan air.”
Baginya, tujuannya sudah sangat jelas, yaitu pengusiran, bahkan jika mereka menyebutnya sebagai migrasi sukarela.
Liel mengatakan Israel melakukan hal paling minimal dalam jalur kemanusiaan untuk menghindari kemarahan Presiden AS Donald Trump. Trump sendiri telah membentuk apa yang dinamakan Badan Perdamaian untuk mengawasi administrasi dan rekonstruksi Jalur Gaza.
“Saya tidak berpikir bahwa Israel ingin Gaza direkonstruksi seperti yang diimpikan oleh Trump,” tuturnya.
Warga Palestina semakin frustrasi dengan kegagalan Badan Perdamaian dalam menekan Israel atau mengimplementasikan rencana pemukiman kembali dan pembangunan yang digariskan dalam rencana gencatan senjata Trump, termasuk masuknya bantuan yang sangat dibutuhkan.
“Badan Perdamaian ikut bersalah sampai mereka bergerak untuk membangun kembali Gaza dengan segera,” tegas Younis.
“Jika tidak, itu sama saja membiarkan Israel menciptakan kondisi yang membuat hidup menjadi mustahil bagi warga Palestina di Gaza, yang akan berujung pada pengusiran.”
Pasukan Israel juga telah memperluas Yellow Line, yang menandai wilayah-wilayah yang dikendalikan Israel di dalam Gaza, hingga mencakup 70 persen dari wilayah Jalur Gaza.
“Kami tidak akan mundur dari ‘Yellow Line’, secara tegas, selama Hamas tidak benar-benar melucuti senjata, dan bahkan setelah itu, kami akan tetap berada di dalam Gaza,” kata Katz kepada Channel 14 saat turnya di Gaza utara, sambil menyebut bahwa kehancuran wilayah tersebut adalah hasil dari kebijakan yang disengaja.
Dorongan pemukiman ini terjadi saat Israel sedang bersiap menghadapi pemilihan umum yang akan digelar pada 27 Oktober.
Menurut Liel, Katz dan para menteri lainnya secara terbuka berbicara tentang pembangunan pemukiman di Gaza karena kalkulasi mereka bahwa hal itu akan meningkatkan peluang elektoral mereka di tengah pergeseran pemilih ke arah sayap kanan.
Banyak pengamat memperkirakan minggu-minggu menjelang pemungutan suara akan disertai dengan eskalasi serius di Gaza, Tepi Barat, dan front perang Israel lainnya tanpa mengubah situasi politik di dalam Israel.
“Keinginan pemerintah Israel ini adalah agar sebanyak mungkin warga Palestina dari Gaza pergi. Diharapkan secara sukarela. Jika tidak, Israel akan membantu, dan inilah alasan mengapa Anda tidak ingin membangun kembali Gaza,” pungkas Liel. [Nour Odeh/Aljazeera.com]
