Strategi Licik Zionis di Gaza: Bangun Pemukiman Ilegal, Usir Penduduk Palestina

 Strategi Licik Zionis di Gaza: Bangun Pemukiman Ilegal, Usir Penduduk Palestina

Ilustrasi: Permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.

Issam Younis, seorang pembela hak asasi manusia Palestina yang terkemuka dan direktur Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan, mengaku tidak terkejut dengan komentar terbaru dari Katz.

“Sudah sangat jelas sejak hari pertama genosida bahwa tujuan utamanya adalah membuat kehidupan menjadi mustahil di Gaza dengan menghancurkan segalanya,” ungkapnya kepada Al Jazeera.

“Ini adalah perlombaan dengan waktu—ambil alih tanah, buat Gaza kelaparan dan hilangkan setiap kesempatan untuk hidup, kemudian usir penduduknya dan bangun pemukiman.”

Younis mengatakan perilaku Israel selama perang genosida terhadap warga Palestina di Gaza serta kondisi gencatan senjata yang disepakati pada bulan Oktober di bawah rencana AS dengan jelas menunjukkan bahwa mengusir penduduk adalah tujuan utama pemerintah Israel.

“Pernyataan tidak manusiawi oleh para pejabat senior Israel menegaskan kembali hal ini: menyebut warga Palestina di Gaza sebagai ‘hewan manusia’, mengatakan tidak ada warga sipil di Gaza, lalu mengatakan dengan jelas bahwa tujuannya adalah mengusir penduduk dan menciptakan pemukiman di Jalur Gaza,” tambah Younis.

Israel sama sekali tidak merahasiakan tujuan tersebut. Pada awal tahun 2025, pemerintah mengumumkan pembentukan sebuah badan untuk mengawasi “migrasi sukarela” warga Palestina dari Gaza sebagai bagian dari rencana yang diusulkan oleh Katz.

Pengumuman tersebut memicu kecaman luas dari dunia internasional, dan para ahli memperingatkan bahwa langkah semacam itu termasuk ke dalam kejahatan perang.

Bulan lalu, pemerintah Israel memutuskan untuk mengubah citra badan tersebut dan mengganti istilah “migrasi sukarela” menjadi free movement plan (rencana pergerakan bebas) dengan menggunakan bahasa yang dianggap lebih dapat diterima secara internasional menurut laporan media Israel.

Kebijakan ini menikmati dukungan luas di dalam internal Israel. Sebuah jajak pendapat tahun 2025 yang ditugaskan oleh Universitas Pennsylvania menemukan bahwa 82 persen warga Yahudi Israel mendukung pengusiran warga Palestina dari Gaza.

Sementara itu, sembilan bulan setelah gencatan senjata berjalan, di mana serangan-serangan Israel telah membunuh sedikitnya 1.127 warga Palestina, kondisi di Gaza tetap tidak tertahankan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan sedikitnya 265 anak-anak telah terbunuh selama periode tersebut, sementara kelaparan terus menghantui dan sistem layanan kesehatan yang lumpuh terus menderita kekurangan obat-obatan akut.

“Hanya 20 persen dari apa yang dibutuhkan Gaza yang diizinkan masuk—hal-hal yang berkaitan dengan air, kesehatan, dan kehidupan secara umum,” kata Younis merujuk pada pembatasan Israel terhadap bantuan yang masuk ke Jalur Gaza.