Sejarah Berdirinya Perpustakaan pada Masa Islam
Pusat Ilmu Pengetahuan di Baghdad di era Daulah Abbassiyah. [AI]
Jika seorang penulis atau pemilik kitab merasa khawatir untuk meminjamkan karya aslinya langsung ke perpustakaan, tim juru tulis bersedia mendatangi rumahnya. Proses penyalinan naskah pun akan dilakukan langsung di kediaman pemilik di bawah pengawasannya yang ketat.
Salah satu catatan sejarah menyebutkan bahwa Perpustakaan Bani Amir di Tripoli, Syam, mempekerjakan seratus delapan puluh juru tulis yang bekerja secara bergantian siang dan malam. Sistem kerja di sana diatur sedemikian rupa agar aktivitas penyalinan tidak pernah berhenti sama sekali. Manajemen memastikan bahwa jumlah juru tulis yang bertugas tidak boleh kurang dari tiga puluh orang pada setiap jamnya, baik di waktu siang maupun malam hari.
Perpustakaan “Baitul Hikma” yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dianggap sebagai perpustakaan umum pertama yang paling berpengaruh di dunia Islam. Institusi ini bertransformasi menjadi pusat kebudayaan dan sains, tempat berkumpulnya para ilmuwan untuk berdiskusi, meneliti, sekaligus tempat bernaung bagi para pencari ilmu.
Masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun kemudian tercatat sebagai era paling gemilang dan keemasan bagi perkembangan Baitul Hikma. Di bawah kepemimpinannya, ribuan karya ilmiah dalam jumlah besar berhasil didatangkan dari Yunani, Persia, hingga India untuk diterjemahkan oleh para ahli yang ditunjuk.
Perpustakaan legendaris lainnya yang tidak kalah populer adalah “Darul Hikmah” yang dibangun pada akhir abad keempat Hijriah di kota Kairo. Koleksi literatur di perpustakaan ini awalnya bersumber dari kitab-kitab berharga yang dipindahkan langsung dari dalam gudang penyimpanan istana kerajaan.
Pintu Darul Hikmah dibuka secara gratis untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial mereka. Para pengunjung yang datang memanfaatkan fasilitas ini dengan berbagai keperluan, mulai dari yang sekadar membaca, menyalin teks penting, hingga mengikuti kelas diskusi.
Gedung yang dirancang untuk perpustakaan ini dibangun dengan skala arsitektur yang sangat megah dan luar biasa. Di dalamnya terdapat empat puluh lemari besar, di mana setiap satu lemarinya mampu menampung sekitar 18.000 jilid buku. Seluruh rak di dalam perpustakaan sengaja dibuat dengan sistem terbuka agar koleksi buku dapat diakses dengan mudah oleh semua orang.
Melalui seluruh sejarah ini, kita dapat melihat bagaimana cara pandang Islam dan kaum muslimin terhadap eksistensi perpustakaan. Bagi mereka, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan nutrisi bagi akal pikiran, kiblatnya ilmu pengetahuan, serta pusat peradaban riset yang utama.[]
Sumber: Tarikhul Ilmi wa Dawrul Ulama al-Arab fi Taqaddumihi, karya: Dr. Abdul Halim Muntasir.
