Rawatlah Rasa Malu dengan Ilmu, Ibadah, dan Taubat

 Rawatlah Rasa Malu dengan Ilmu, Ibadah, dan Taubat

Aceh Besar (Mediaislam.id) — Selama hati manusia masih merasa malu ketika berbuat dosa, jangan anggap itu kelemahan. Justru itulah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Sebab rasa malu adalah alarm yang mengingatkan bahwa hati masih hidup. Karena itu, rawatlah rasa malu dengan ilmu, ibadah, dan taubat. Selama rasa malu kepada Allah masih ada, jalan untuk kembali kepada-Nya akan selalu terbuka.

Guru Besar FMIPA Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si menyampaikan harapan itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Dusun Meusara Agung, Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, 3 Juli 2026 bertepatan 18 Muharram 1448 Hijriah.

Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu bukti kesempurnaan Islam adalah perhatiannya ke hal-hal detail. Salah satu hal detail dan lembut yang di-encourage dalam Islam, adalah rasa malu. Rasa malu adalah sesuatu yang semakin mahal di zaman ini. Dahulu, orang berusaha menyembunyikan kesalahan karena malu diketahui orang lain.

“Hari ini, banyak kesalahan justru dipamerkan. Aurat diumbar tanpa rasa sungkan, kebohongan dipertontonkan, kemaksiatan direkam dan dibagikan, bahkan harta hasil korupsi pun dipamerkan seolah sebuah keberhasilan. Yang memalukan justru perlahan dianggap biasa,” ungkapnya.

Padahal Rasulullah saw bersabda, “Rasa malu adalah salah satu cabang iman.” Sabda ini mengandung makna yang sangat dalam. Malu bukan sekadar sopan santun atau norma sosial, tetapi bagian dari fitrah keimanan yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Menurut Ilham Maulana, setiap manusia lahir di atas fitrah. Rasulullah saw bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian lingkunganlah yang membentuk arah kehidupannya. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa anak yang meninggal sebelum balig meninggal dalam keadaan fitrahnya. Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa keadaan asli manusia adalah suci, cenderung kepada kebenaran, dan memiliki rasa malu terhadap keburukan.

Ia menguraikan, mungkin itulah sebabnya Islam tidak datang untuk mengubah fitrah manusia, melainkan menjaganya agar tetap berada di atas ṣiraṭal mustaqim. Sebaliknya, setan bekerja tanpa lelah untuk menjauhkan manusia dari fitrah tersebut. Ia tidak selalu membuat dosa tampak menarik pada awalnya.

“Yang lebih sering ia lakukan adalah membuat manusia terbiasa. Ketika dosa diulang terus-menerus, rasa malu perlahan menghilang. Sesuatu yang dahulu membuat hati gelisah akhirnya terasa biasa saja,” ujarnya.

Pada bagian lain, Ilham Maulana, menyampaikan bahwa psikologi modern mengenal rasa malu sebagai salah satu moral emotion, emosi yang membantu manusia menjaga perilakunya agar tetap sesuai dengan nilai yang diyakini. Rasa malu yang sehat menjadi rem batin sebelum seseorang berbuat salah. Penelitian neuroscience juga menunjukkan bahwa ketika seseorang mengambil keputusan moral, bagian otak yang berkaitan dengan pengendalian diri, empati, dan penilaian sosial ikut bekerja.

“Dengan kata lain, rasa malu bukan sekadar hasil budaya, tetapi memang menjadi bagian dari desain manusia untuk menjaga kehidupan yang bermartabat,” tegasya.

Karena itu, ungkap Pengurus IKADI (Ikatan Dai Indonesia) Aceh ini, hilangnya rasa malu bukan hanya persoalan akhlak, tetapi juga tanda semakin jauhnya manusia dari fitrahnya.

“Ketika pejabat tidak lagi malu mengkhianati amanah, hakim tidak malu memutuskan perkara secara zalim, pedagang tidak malu menipu, atau seseorang tidak malu mempertontonkan maksiatnya, sesungguhnya yang sedang memudar bukan sekadar etika, melainkan cahaya iman di dalam hati,” pungkasnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + seventeen =