Puluhan Gen Z Hadiri Kajin Healing with Qur’an di Bogor

 Puluhan Gen Z Hadiri Kajin Healing with Qur’an di Bogor

Bogor (Mediaislam.id) – Aroma nasi liwet, ikan bakar, dan masakan khas Sunda biasanya menjadi alasan orang datang ke Sarimaya Imah Bancakan. Namun pada Sabtu (29/8/2026) malam, halaman rumah makan yang sedang digemari warga Bogor itu menghadirkan pemandangan berbeda.

Di bawah langit malam, ketika sebagian besar anak muda menghabiskan Sabtu malam dengan nongkrong, menonton konser, atau berbagai hiburan tanpa henti, suasana berbeda justru hadir di Sarimaya Imah Bancakan. Di halaman rumah makan itu, digelar kajian Healing With Qur’an untuk anak-anak muda.

Para pemuda, mereka datang bukan sekadar mengikuti kajian, tetapi mencari sesuatu yang semakin langka di tengah kehidupan digital: ketenangan hati.

Kajian Healing With Qur’an (HWQ) bulan ini mengangkat tema yang dekat dengan realitas generasi Z, “Orang Have, Mental Aman?” Sebuah pertanyaan sederhana, namun menyentil anggapan bahwa memiliki harta, pencapaian, atau popularitas otomatis membuat seseorang bahagia.

Sebelum memasuki sesi utama, peserta lebih dahulu mengikuti pembelajaran tahsin bersama Ustaz Alvin Firmansyah, seorang penghafal Al-Qur’an yang pernah menjadi juri Hafidz Indonesia.

Malam itu, ayat yang dipelajari adalah Surat Al-Fath ayat 1–6. Pilihan surat tersebut terasa serasi dengan tema kajian karena berbicara tentang pertolongan, ampunan, ketenangan, dan kemenangan yang Allah berikan kepada orang-orang beriman.

Di tengah kesunyian malam, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi pembuka yang menenangkan, seolah mengajak setiap peserta menyiapkan hati sebelum berbicara tentang luka dan kesehatan mental.

Usai tahsin, seluruh peserta berdiri merapatkan saf untuk menunaikan salat Isya berjamaah. Ustaz Alvin menjadi imam dengan bacaan Al-Qur’an yang merdu dan penuh penghayatan. Di tengah semilir angin malam, suasana menjadi begitu khusyuk. Tak terdengar riuh kendaraan atau tawa seperti lazimnya malam Sabtu; yang terdengar hanya lantunan ayat suci yang membuat hati terasa lebih teduh.

Materi pertama disampaikan Muhammad Amir Abdullah, mahasiswa tingkat akhir Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (DALWA). Ia mengajak peserta merenungi firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Menurut Amir, ayat tersebut sangat relevan dengan kehidupan generasi sekarang yang sering mengukur kesuksesan dari apa yang dimiliki.

“Kita melihat orang punya uang, bisa liburan ke luar negeri, memakai barang mahal, hidupnya terlihat seru. Tapi ternyata semua itu belum tentu membuat seseorang benar-benar tenang,” ujarnya.

Mengutip tafsir Al-Qurthubi, Amir menjelaskan bahwa kata zikir dalam ayat itu memiliki dua makna penting. Pertama, mengingat Allah beserta seluruh ketetapan-Nya, sehingga manusia belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Kedua, zikir juga bermakna Al-Qur’an itu sendiri.

“Al-Qur’an adalah tempat kita kembali ketika lemah, cemas, bingung, bahkan kehilangan arah. Ia seperti bengkel atau rumah sakit bagi hati yang sedang sakit,” tuturnya.

Analogi itu membuat banyak peserta mengangguk pelan. Sebab sering kali yang perlu diperbaiki bukan keadaan di luar diri, melainkan hati yang berada di dalam dada.

Sesi kedua menghadirkan Rizky Fadhilah, seorang hypnotherapist yang banyak berbicara tentang kesehatan mental generasi Z.

Ia memulai dengan fenomena yang setiap hari ditemui anak muda: budaya mencari validasi melalui TikTok, Instagram, dan YouTube. Menurutnya, media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat bahagia, produktif, sukses, dan sempurna.

“Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kehidupan orang lain,” katanya.

Di balik foto yang estetik dan video yang viral, banyak orang justru menyimpan kecemasan, rasa tidak berharga, hingga luka batin yang tidak pernah dipublikasikan.

Rizky menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda menghadapi masalah. Ada yang menangis, mencari hiburan, makan berlebihan, berbelanja, hingga terus-menerus bercerita kepada orang lain. Namun semua itu bisa menjadi pelarian apabila akar persoalannya tidak pernah disentuh.

Ia kemudian menyoroti luka yang berasal dari pengalaman masa lalu dan trauma keluarga, termasuk fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam kehidupan anak. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi pola berpikir, hubungan sosial, hingga perkembangan kepribadian apabila tidak dihadapi dengan baik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masa lalu bukanlah hukuman seumur hidup. “Berdamai dengan diri sendiri dimulai dari menerima kenyataan, memaafkan dengan tulus, dan tidak menyangkal apa yang sedang kita rasakan,” pesannya.

Sebagai langkah praktis, Rizky menyarankan peserta membiasakan journaling. Menulis perasaan ketika sedang tertekan dapat membantu seseorang mengenali emosi dan menemukan luka yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan sehari-hari.

Menjelang akhir acara, lampu-lampu temaram halaman Sarimaya menjadi saksi sesi yang paling menyentuh. Ketua HWQ Arya Adhi Utama memimpin muhasabah, mengajak seluruh peserta menundukkan kepala dan memanjatkan doa.

Ia memohon agar Allah menguatkan iman dan Islam para pemuda, membimbing mereka menjadi generasi yang taat, serta menjalani hidup sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Lantunan doa yang lirih membuat suasana berubah haru. Beberapa peserta tampak menyeka air mata, sementara yang lain tetap menengadahkan tangan dengan mata terpejam, larut dalam harapan akan ampunan dan ridha Allah SWT.

Malam itu, Sarimaya Imah Bancakan bukan sekadar tempat menikmati kuliner Sunda. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara anak muda dan Al-Qur’an—sebuah pengingat bahwa “have” belum tentu berarti mental aman, karena ketenangan sejati lahir ketika hati kembali kepada Allah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − 6 =