Pembina Dewan Dakwah Tegaskan Peran Umat Islam dalam Sejarah Bangsa
Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc
Bogor (Mediaislam.id) – Ketua Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mendukung usulan penetapan 3 April sebagai Hari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam pemaparannya, Kiai Didin menjelaskan bahwa tanggal 3 April 1950 merupakan momentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia, ketika Mohammad Natsir menyampaikan Mosi Integral yang mengembalikan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi NKRI.
“Gagasan Negara Kesatuan itu dimunculkan oleh Pak Natsir sebagai tokoh Islam dan tokoh Masyumi. Dengan pendekatan sejarah dan konstitusi, akhirnya Indonesia kembali menjadi NKRI,” ujarnya dalam kajian Ahad pagi (5/4/2026) di Masjid Ibn Khaldun Bogor.
Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan besarnya peran umat Islam dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Ia menegaskan bahwa tidak benar jika umat Islam dianggap tidak memiliki komitmen terhadap negara.
“Tidak ada sejarahnya umat Islam anti terhadap negara. Justru umat Islam memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya.
Kiai Didin juga mengingatkan bahwa peran ulama dalam menjaga keutuhan negara telah ditegaskan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2007, yang menyebutkan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa merupakan bagian dari tugas ulama.
Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKsPPI) itu mencontohkan perjuangan para kiai dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk melalui Resolusi Jihad pada 10 November 1945 yang menjadi tonggak perlawanan terhadap penjajah.
“Para kiai seperti KH Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya adalah mujahid yang memperjuangkan kemerdekaan. Jihad itu adalah semangat perjuangan, bukan sesuatu yang negatif,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Didin menyampaikan bahwa dirinya mendengar adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan legislatif, untuk menetapkan dua hal penting, yakni menjadikan 3 April sebagai Hari NKRI dan menetapkan Mohammad Natsir sebagai Bapak NKRI.
“Saya mendengar dari MPR ada dukungan agar 3 April dijadikan Hari NKRI dan Pak Natsir sebagai Bapak NKRI. Menurut saya memang sudah seharusnya demikian,” katanya.
Ia menilai bahwa perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam membangun dan mempertahankan negara merupakan bagian dari panggilan iman dan tauhid, bukan sekadar perjuangan politik semata.
“Memperjuangkan kemerdekaan dan melawan penjajahan itu adalah panggilan agama, panggilan tauhid. Tidak boleh ada satu bangsa menjajah bangsa lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Didin juga menyinggung kondisi global, khususnya penjajahan yang terjadi di Palestina. Ia mengajak umat Islam untuk menunjukkan kepedulian terhadap berbagai bentuk penindasan di dunia.
“Yang terjadi di Palestina harus menjadi perhatian kita semua. Minimal kita mendukung dengan doa bagi mereka yang dizalimi,” ungkapnya.
Ia menutup dengan mengajak umat Islam untuk terus menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai keimanan, serta berkontribusi dalam menjaga persatuan bangsa dan negara. []
