Mr Kasman Singodimedjo: Hidup itu Berjuang, Beribadah dan Beramal
Ilustrasi: Cover buku “Hidup itu Berjuang; Kasman Singodimedjo 75 Tahun”.
Dari Syekh Ahmad Surkati, Kasman bersama teman-temannya pimpinan JIB mendapatkan pelajaran akidah dan pembangunan umat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Dalam seminggu, setidaknya ia tiga kali belajar dengan Syekh Surkati. Hal itu dilakukan Petang hari usai shalat magrib berjamaah. Kasman, dalam pandangan Syekh Surkati adalah pemuda yang cerdas, berjiwa besar dan pemberani. Sifat itu, sulit ditemukan karena banyak umat Islam yang mati jiwanya, jumud dan takut kepada Belanda.
Saking dekatnya Kasman dengan Syekh Surkati, hubungan keduanya seolah seperti seorang anak dan ayah. Bila Kasman datang berkunjung, terlontarlah ucapan Syekh Surkati, “Ahlan wa Sahlan fil Assad.”
Kasman menjabat sebagai Ketua JIB pada periode 1930-1935. Karena aktivitas politik Kasman dinilai Belanda berbahaya, ia dikeluarkan dari GHS (Gneeskundige Hoge School), yang awalnya bernama STOVIA. Beasiswanya dicabut.
Kasman tidak berhasil menjadi seorang dokter sebagaimana cita-citanya. Namun ia bertekad masuk ke RHS untuk menjadi ahli hukum. Karena itu ia berhenti sekolah selama setahun untuk mengumpulkan biaya masuk RHS. “Dengan izin Allah, setelah melalui masa kuliah selama lima tahun akhirnya pada tanggal 26 Agustus 1939 saya tamat dari RHS dengan mendapat title Meester in de Rechten (Mr) untuk bagian Sosiologis Ekonomis dengan ijazah yang memuaskan,” kata dia.
Saat JIB menerbitkan majalah “Het Liicht” atau nama lainnya “An-Nur”, Kasman banyak menulis dengan topik seputar agama. Mohammad Roem, adik kelasnya di STOVIA, mengakui kemahiran Kasman dalam bidang ini. Harap maklum sejak di Magelang ia sudah berguru kepada tokoh-tokoh Muhammadiyah. Kemudian saat di Batavia ia belajar pada Syekh Ahmad Surkati. Tanya jawab antara Kasman dengan Syekh Ahmad Surkati itu kemudian dimuat dalam majalah Az-Zakhirah.
Setelah masa jabatannya di Pengurus Besar JIB selesai pada 1935, Kasman secara resmi aktif di kepengurusan Muhammadiyah. Ia menjadi guru pada AMS, Mualimin, Mualimat, MULO dan HIK yang semuanya bernaung di bawah Muhammadiyah Jakarta. Hingga pada akhirnya ia menjadi Ketua Muhammadiyah Cabang Jakarta sekaligus Koordinator Muhammadiyah Wilayah Jakarta, Bogor dan Banten.
Karena itu Kasman adalah seorang Muhammadiyah tulen. Sejak dibina pada 1921 di Magelang, ia mengaku belum pernah absen di Muhammadiyah. Dari anggota biasa kemudian meningkat menjadi guru dan dai, kemudian Ketua Muhammadiyah Jakarta hingga menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertahun-tahun. “Ya, pernah saya masuk tahanan penjara Hindia Belanda berbulan-bulan di Bogor karena membela Muhammadiyah.”
Kasman juga tekun berkantor di Jalan Menteng Raya 62 Jakarta. Dalam setiap rapat dan pertemuan, ia selalu hadir dari awal hingga selesai.
Dalam bukunya, “Renungan dari Tahanan” (Jakarta: Penerbit Tintamas, 1967), beliau menulis: “Tidak ada kamus Islam jang menjatakan bahwa si Muslim harus berhenti dari perdjuangannja selama ia masih hidup, karena hidup itu berdjuang, beribadat, beramal!.” [SR]
