Menyiapkan Dai di Tengah Perubahan Zaman, ADI Kota Bogor Tekankan Dakwah yang Kompeten
Sementara itu, Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban turut mengingatkan bahwa dakwah pada dasarnya merupakan gerakan untuk mengajak, mengingatkan, menasihati, sekaligus memberikan solusi atas berbagai tantangan kehidupan.
Menurutnya, dai harus memahami persoalan masyarakat dan mampu menunjukkan jalan keluar berdasarkan nilai-nilai Islam. Dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan kehidupan sosial ke arah yang lebih baik.
Kaban menilai bahwa tantangan kehidupan yang menyimpang dari nilai-nilai agama tetap menjadi persoalan pada masa kini. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadi muslim yang kaffah, yakni menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa kewajiban berdakwah melekat pada setiap muslim, baik secara individu maupun berjamaah. Mengajak masyarakat mengenal dan menjalankan ajaran Islam, menurutnya, merupakan tanggung jawab yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan seorang muslim.
Merawat Perjuangan dari Pesantren
Di balik penyelenggaraan Stadium General, Pondok Pesantren Riyadhul Huda menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, kaderisasi, dan kesinambungan perjuangan dakwah.
Pimpinan pesantren, KH Badru Kamal Makmun, mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan ADI Kota Bogor dapat terlaksana. Ia berharap kegiatan tersebut memperkuat sinergi dakwah dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan membuka peluang kerja sama dengan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI).
Ia juga menyampaikan kekagumannya terhadap pemikiran Mohammad Natsir serta perjuangan KH Khair Affandy. Baginya, keteladanan para tokoh tersebut menjadi sumber inspirasi dalam merawat perjuangan dakwah dari lingkungan pesantren.
Di hadapan para peserta, Kiai Badru turut memohon doa agar keluarga besar Pondok Pesantren Riyadhul Huda dapat terus menjaga keberlangsungan pesantren. Ia berharap anak-anaknya kelak mampu meneruskan perjuangan yang telah dirintis.
Harapan itu memperlihatkan bahwa dakwah bukan pekerjaan yang selesai dalam satu generasi. Ia membutuhkan proses panjang, lembaga pendidikan yang kokoh, kader yang terus bertumbuh, dan dukungan berbagai pihak untuk menjaga kesinambungan pengabdian. []
