Mengenal Dinar dan Dirham
Ilustrasi: Dinar-Dirham
Setelah Islam datang, Rasulullah Saw menetapkan (dengan taqrir, penggunaan) dinar dan dirham tersebut, dan menetapkannya sebagai mata uang. Rasulullah juga menetapkan timbangan mata uang dinar dan dirham seperti yang telah berlangsung pada Quraisy. Dari Thawus dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw bersabda: “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran maka takaran penduduk Madinah.”
Diriwayatkan oleh al-Baladzuriy dari Abdullah bin Tsa’labah bin Sha’ir: Dinar Hirakliy dan dirham Persia biasa digunakan oleh penduduk Makkah pada masa jahiliyah. Akan tetapi mereka tidak menggunakannya dalam jual beli, kecuali menjadikannya (timbangan) lantakan. Mereka sudah mengetahui timbangan mitsqal. Timbangannya adalah 22 qirath kurang (satu dirham) Kisra. Dan timbangan 10 dirham sama dengan 7 mitsqal. Satu rithl sama dengan 12 uqiyah, dan setiap satu uqiyah sama dengan 40 dirham. Dan Rasulullah Saw membiarkan hal itu. Begitu pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Dengan demikian kaum Muslim telah menggunakan bentuk, cetakan dan gambar dinar Hirakliy dan dirham Kisra pada masa Rasulullah Saw, Khalifah Abubakar Shiddiq dan awal dari masa Khalifah Umar.
Namun, pada tahun ke-20 Hijriyah atau pada tahun ke-8 dari masa pemerintahan Khalifah Umar, beliau mencetak dirham yang baru berdasarkan dirham Sasanid. Bentuk dan timbangannya tetap mengacu pada (dirham) Kisra, gambar dan tulisannya bermotif Bahlawiyah (Pahlevi). Hanya saja beliau menambah tulisannya dengan menggunakan huruf Arab kufi, misalnya بِسْمِ اللهِ (dengan nama Allah) dan بِسْمِ اللهِ رَبَِّي (dengan nama Allah Rabbku).
Kaum Muslim tetap menggunakan uang dinar yang mengacu pada (bentuk) dinar Byzantium dan dirham Sasanid ini, hanya terdapat tambahan kata Islam dengan menggunakan huruf Arab. Keadaan ini berlangsung terus sampai masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Pada tahun 75 atau 76 H Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dirham yang berciri khas Islam, yang mengandung teks-teks Islam dengan menggunakan khath kufi, sedangkan bentuk Sasanid ditinggalkan. Pada tahun 77 H dicetak dinar yang berciri khas Islam, dan terukir di dalamnya teks-teks Islami dengan khath Arab kufi, sedangkan dinar yang berbentuk Byzantium ditinggalkan.
Setelah Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dirham dan dinar yang berciri khas Islam, maka kaum Muslim memiliki mata uang yang berciri khas Islam, dan menanggalkan mata uang lainnya.
Timbangan Dinar dan Dirham
Timbangan dinar Islam tidak berbeda dengan timbangan dinar pada masa Jahiliyah. Timbangannya tetap. Dinar Byzantium pernah dipraktikkan pada masa Jahiliyah, masa Rasulullah Saw dan para Khalifah sesudahnya. Kemudian Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar Islam dengan timbangan tersendiri, sementara dinar Byzantium timbangannya menggunakan (satuan) mitsqal.
Satu mitsqal sama dengan 8 daniq, dan satu daniq sama dengan 20 qirath, atau 22 qirath kurang satu (dirham) Kisra. Kedua timbangan ini sama saja, karena qirath pada keduanya berbeda. Bahwa satu mitsqal itu ditaksir setara dengan (berat) 72 biji gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya. Sama halnya dengan timbangan yang mereka tetapkan seberat 6000 biji khardal barriy (sejenis sawi) ukuran sedang.
