Menag Nasaruddin Umar Bedah Tingkatan Iman di Masjid Bersejarah Bengkulu

 Menag Nasaruddin Umar Bedah Tingkatan Iman di Masjid Bersejarah Bengkulu

Menag Nasaruddin Umar di Masjid Jami’ Kota Bengkulu, Jumat (24/04/2026)

Kota Bengkulu (Mediaislam.id) – Menteri Agama Nasaruddin Umar memanfaatkan momentum khotbah Jumat di Masjid Jami’ Kota Bengkulu untuk mengajak umat Islam melakukan refleksi mendalam terhadap kualitas spiritualitas pribadi.

Dalam pesannya yang disampaikan pada Jumat (24/04), Menag menekankan bahwa proses muhasabah atau introspeksi diri merupakan kunci utama dalam meniti tangga keimanan yang lebih tinggi.

Masjid Jami’ yang menjadi lokasi kegiatan tersebut dipandang Menag bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan simbol keberkahan dan sejarah besar bangsa.

Ia mengingatkan jemaah bahwa rumah ibadah dengan perpaduan arsitektur Jawa dan Sumatera ini merupakan karya Presiden Pertama RI, Soekarno, saat masa pengasingan. Dari tanah Bengkulu ini pula lahir sosok Fatmawati Soekarno yang menjahit Sang Saka Merah Putih, sehingga nilai historis yang melekat diharapkan mampu memperkuat spirit ibadah masyarakat setempat.

Dalam pemaparannya, Menag menguraikan lima kategori kualitas keislaman seseorang yang harus terus diupayakan perkembangannya. Tingkatan terbawah dimulai dari kelompok fasik, yakni mereka yang mengaku Muslim namun belum menjalankan kewajiban agama.

Di atasnya terdapat kelompok awam yang sudah mulai beribadah meski masih terbatas pada formalitas dan belum menunjukkan konsistensi yang stabil.

Kualitas keimanan selanjutnya adalah ahlul thoa, yaitu kelompok yang mulai disiplin menjalankan ibadah meskipun masih merasakan adanya beban dalam pelaksanaannya.

Di atas tingkat tersebut, terdapat ahlul ibadah yang menjalankan seluruh perintah agama didasari atas rasa cinta yang tulus kepada Allah SWT. Perjalanan spiritual ini diharapkan terus berproses menuju derajat yang lebih mulia di mata Sang Pencipta.

Puncak tertinggi dari tingkatan keimanan manusia menurut Menag adalah derajat ahlullah. Pada tahap ini, seorang hamba telah mencapai kecintaan penuh kepada Allah sehingga tidak lagi membedakan antara ibadah wajib dan sunnah, serta tidak lagi menghitung-hitung amal yang telah dilakukan. Ia berharap masyarakat dapat terus berupaya meningkatkan kualitas diri agar bisa naik dari satu tingkat ke tingkat berikutnya demi mencapai kesempurnaan iman.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 6 =