Lepas Petugas Haji 2026, Wamenhaj Dahnil Tekankan Kekuatan Mental dan Fisik

 Lepas Petugas Haji 2026, Wamenhaj Dahnil Tekankan Kekuatan Mental dan Fisik

Jakarta (Mediaislam.id)–Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak secara resmi melepas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Dalam arahannya, Dahnil menekankan pentingnya kesiapan mental selain fisik bagi para petugas yang akan bertugas di Tanah Suci. Ia mengingatkan, masa tugas yang relatif panjang hingga sekitar 70 hari menjadi tantangan tersendiri, terutama karena para petugas harus meninggalkan keluarga dalam waktu lama.

“Pastikan Anda mampu mengelola mental dan fisik dengan baik. Tidak semua terbiasa berpisah lama dengan keluarga. Ini ujian tersendiri,” ujar Dahnil.

Menurutnya, selama ini kesiapan fisik kerap menjadi fokus utama dalam pelatihan. Namun, pada momen pelepasan ini, ia secara khusus menggarisbawahi pentingnya kesiapan mental dan rohani agar mampu menopang tugas pelayanan di lapangan.

Dahnil juga mengingatkan bahwa tugas sebagai petugas haji merupakan amanah besar, tidak hanya dari negara, tetapi juga dari Allah SWT dan para jamaah. Ia meminta seluruh petugas meniatkan tugas tersebut sebagai bagian dari ibadah.

“Wakafkan diri sepenuhnya untuk melayani jamaah. Ini adalah misi suci bagi diri, keluarga, bangsa, dan agama,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan penyelenggaraan haji tahun ini tidak ringan, mengingat dinamika geopolitik global yang dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, kesiapan mental dan fisik harus terus dijaga sepanjang masa tugas.

Dalam kesempatan itu, Dahnil juga memaparkan karakteristik jamaah haji Indonesia yang akan dilayani. Dari sisi ekonomi, jamaah terdiri atas mereka yang mampu secara finansial dan mereka yang berjuang keras untuk bisa berangkat, bahkan dengan menjual aset atau menabung seumur hidup.

Dari sisi pendidikan, sekitar 55 ribu jamaah tercatat hanya lulusan sekolah dasar, sementara lebih dari 100 ribu lainnya berpendidikan maksimal sekolah menengah. Dari sisi profesi, sekitar 30 persen jamaah merupakan petani, dan 25 persen lainnya adalah lanjut usia.

“Sebanyak 177 ribu dari total 203 ribu jamaah reguler masuk kategori risiko tinggi (risti), terutama dari aspek kesehatan. Ini harus menjadi perhatian serius,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Dahnil menegaskan tidak ada ruang bagi petugas untuk lengah. Ia meminta seluruh petugas bekerja dengan penuh dedikasi dan kesabaran dalam melayani jamaah.

Menutup arahannya, Dahnil menekankan pentingnya kekompakan dan kepatuhan terhadap komando selama bertugas di Tanah Suci. Ia optimistis, dengan kerja sama yang solid, penyelenggaraan haji 2026 dapat mencatat sejarah baru bagi Indonesia.

“Kita pastikan tetap kompak dan mengikuti komando. Kita ingin haji 2026 menjadi tonggak baru perhajian Indonesia,” katanya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 9 =