KUII VIII Tegaskan Sikap MUI: Tolak Genosida dan Berdiri Bersama Palestina

 KUII VIII Tegaskan Sikap MUI: Tolak Genosida dan Berdiri Bersama Palestina

Ketum MUI KH Anwar Iskandar memberi sambutan dalam penutupan KUII VIII di Jakarta, Ahad malam, (26/7/2026).

Jakarta (Mediaislam.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII kembali mempertegas sikap solid umat Islam Tanah Air. Sikap tersebut secara tegas menolak genosida dan berdiri di belakang perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina.

Dalam penutupan KUII VIII yang diselenggarakan di Jakarta pada Ahad malam (26/7/2026), Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menyampaikan amanat kemanusiaan tersebut. Ia menyatakan bahwa dukungan terhadap Palestina harus terus disuarakan seiring dengan kecaman keras atas praktik genosida.

“Majelis Ulama Indonesia mesti tegas secara solid Bahwa Majelis Ulama Indonesia berada di belakang perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, itu harus,” katanya menegaskan, dikutip dari Antara.

Kiai Anwar juga menyoroti pentingnya umat Islam memiliki sikap perlawanan yang jelas terhadap fenomena Islamofobia. Fenomena tersebut marak digerakkan di berbagai negara oleh kelompok yang menggunakan kekuasaannya untuk menekan umat Islam.

Ia mengingatkan kembali pesan kenabian yang mengibaratkan umat Islam sedunia layaknya satu tubuh. Ketika ada umat Islam di belahan bumi lain disakiti dan tertindas seperti di Palestina, seluruh umat Islam Indonesia wajib merasakan penderitaan tersebut serta bergerak mengobatinya.

Sebagai bentuk aksi nyata, Ketua Umum MUI menyerukan pimpinan ormas Islam di Indonesia untuk terus menggalang bantuan kemanusiaan. Penggalangan dan pendonasian bantuan tersebut bertujuan meringankan beban rakyat Palestina.

“Bahwa kita atas dasar kemanusiaan, atas dasar ukhuah insaniah, maka kita akan berada di belakang mereka. Dan kalau perlu, kita akan mendonasikan atau menyerukan tentang pentingnya donasi terhadap mereka,” ujarnya.

Untuk memantik semangat kepedulian tersebut, Anwar mengenang kembali momentum bersejarah pada Muktamar Ke-13 Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar tersebut berlangsung di Menes, Banten, pada tahun 1938 silam.

Saat itu, para kiai dan masyarakat hidup di tengah kondisi ekonomi yang memprihatinkan pada era penjajahan. Meski serba susah, mereka tetap mampu mengumpulkan donasi untuk membela perjuangan umat Islam di Palestina.

Berkaca dari semangat historis tersebut, Anwar menegaskan bahwa umat Islam Indonesia saat ini hidup di era kemerdekaan dengan kondisi ekonomi yang jauh lebih baik. Oleh karena itu, umat Islam sepatutnya mampu berkontribusi lebih besar lagi untuk membantu penderitaan rakyat Palestina.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − seven =