KH Zainuddin MZ: Jangan Sampai Keadilan di Negara Kita Seperti Taman Safari
JAKARTA (Mediaislam.id) — Dai Sejuta Umat, almarhum KH Zainuddin MZ, pernah melontarkan kritik dan sindiran tajam terkait kondisi penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Dalam salah satu ceramahnya yang kembali ramai diperbincangkan di media sosial, kiai kharismatik tersebut mengibaratkan praktik keadilan yang timpang layaknya konsep Taman Safari.
”Tahu tidak bedanya Ragunan dengan Taman Safari?” ujar KH Zainuddin MZ mengawali analoginya di hadapan para jemaah.
Ia kemudian menjelaskan, di Kebun Binatang Ragunan, para pengunjung bebas berjalan-jalan sementara binatangnya dikurung. Namun di Taman Safari, kondisinya berbalik; pengunjung yang berada di dalam kendaraan terkurung, sementara binatangnya dibiarkan bebas berjalan-jalan.
Dari analogi sederhana tersebut, KH Zainuddin mengkritik realitas hukum yang dinilainya kerap terbalik. Ia menyoroti fenomena di mana pihak yang benar dan tidak bersalah justru sering kali dihukum, sedangkan pihak yang bersalah dibiarkan bebas berkeliaran.
”Di republik hutan sering seperti Taman Safari, Pak. Yang benar dikurung, yang salah jalan-jalan. Itu Taman Safari namanya,” tegas Kiai Zainuddin.
Menurut ulama legendaris ini, keadilan di negeri ini terasa sangat mahal dan kerap tidak berpihak kepada kepentingan rakyat kecil. Kondisi tersebut dinilainya sebagai sebuah ironi yang menyedihkan dan harus menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa untuk memperbaikinya. Ia berpesan agar sistem keadilan negara tidak dibiarkan rusak.
”Tanggung jawab kita semua, jangan sampai negara kita kayak Taman Safari. Yang benar dikurung, yang salah jalan-jalan,” pesannya memperingatkan.
Lebih lanjut, penceramah kelahiran Jakarta ini juga menyoroti lambannya penyelesaian kasus-kasus besar yang sering kali tidak tuntas dan menguap begitu saja. Ia mengibaratkan penanganan kasus-kasus tersebut seperti aliran air Sungai Bengawan Solo yang berliku-liku melewati berbagai kabupaten, namun pada akhirnya lenyap begitu saja saat bermuara ke laut.
”Semua kasus-kasus besar akhirnya menguap kayak lagu Bengawan Solo. Belak-belok kiri kanan, akhirnya ke laut. Kalau sudah ke laut, habis sudah urusan, wassalam,” pungkasnya.
Meski ceramah tersebut telah lama disampaikan, sindiran mendalam dari sang kiai dinilai oleh banyak pihak masih sangat relevan dengan realitas penegakan hukum di Tanah Air saat ini.*
