Kelembutan dan Kedermawanan ‘Pemilik Dua Cahaya’ Utsman bin Affan

 Kelembutan dan Kedermawanan ‘Pemilik Dua Cahaya’ Utsman bin Affan

Ilustrasi: Kaligrafi “Utsman bin Affan” di Masjid Hagia Sophia, Istanbul.

Teladan Kesabaran: Syahid di Tengah Fitnah

Akhir hayat Utsman adalah tragedi yang memperlihatkan puncak kelembutan hatinya. Saat rumahnya dikepung oleh para pemberontak yang terhasut fitnah, Utsman melarang para sahabat dan pengawalnya untuk menghunuskan pedang demi membelanya. Beliau berkata, “Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah umat Muhammad untuk menyelamatkan nyawaku sendiri.”

Said Ramadhan al-Buthy menggambarkan momen ini sebagai “Siyasah as-Salami” (politik damai) yang ekstrem. Utsman memilih wafat dalam keadaan berpuasa dan sedang membaca Al-Qur’an daripada melihat Madinah berubah menjadi medan tempur saudara (Al-Buthy, 2006: 480). Beliau gugur sebagai syahid di tangan kaum durjana, tepat saat darahnya membasahi ayat: “Maka Allah akan memeliharamu dari mereka…” (QS. Al-Baqarah: 137).

Warisan Sang Hartawan Langit

Utsman bin Affan mengajarkan kepada dunia bahwa kekayaan di tangan orang yang beriman adalah berkah bagi kemanusiaan. Beliau membuktikan bahwa kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan yang paling stabil.

Sejarah akan selalu mencatat nama Utsman bukan karena tumpukan hartanya, melainkan karena bagaimana harta itu ia habiskan untuk memastikan sumur-sumur umat tidak kering, tentara-tentara Allah tidak lapar, dan Mushaf Al-Qur’an terjaga hingga akhir zaman. [MSR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − fourteen =