Kelembutan dan Kedermawanan ‘Pemilik Dua Cahaya’ Utsman bin Affan
Ilustrasi: Kaligrafi “Utsman bin Affan” di Masjid Hagia Sophia, Istanbul.
Menantu Rasulullah Saw: Gelar Dzunnurayn dan Kedekatannya dengan Nabi
Utsman memiliki kedudukan unik yang tidak dimiliki sahabat lain: ia adalah menantu Nabi Muhammad Saw dua kali. ia pertama kali menikahi Ruqayyah ra. Bersama Ruqayyah, Utsman melakukan hijrah pertama ke Habasyah (Etiopia). Setelah Ruqayyah wafat pasca Perang Badar, Rasulullah Saw kemudian menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kulsum ra.
Karena menikahi dua putri Nabi inilah, Utsman dijuluki “Dzunnurayn” (Pemilik Dua Cahaya). Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa saat Ummu Kulsum wafat, Nabi Saw bersabda bahwa seandainya beliau memiliki putri ketiga, beliau pun akan menikahkannya dengan Utsman (Ibnu Hisyam, 1994: 310). Hal ini menjadi dasar betapa Nabi Saw sangat mencintai karakter dan kesetiaan Utsman.
Kedermawanan Utsman
Jika kita berbicara tentang Utsman, maka kedermawanannya adalah legenda yang tak lekang oleh waktu. Beliau adalah donatur utama dalam berbagai krisis yang dihadapi umat Islam.
Bahkan, seperti ditulis oleh sejarahwan Islam Ali Muhammad Ash-Shalabi dan catatan kontemporer mengenai pengelolaan wakaf di Arab Saudi, terdapat sejumlah aset wakaf Utsman bin Affan yang masih eksis hingga saat ini
a. Sumur (Bir) Rumiyah di Madinah
Saat umat Islam di Madinah kesulitan air bersih, hanya ada satu sumur milik seorang Yahudi yang airnya dijual dengan harga mahal. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang membeli sumur Rumiyah untuk umat Islam, maka baginya surga.”
Tanpa tawar-menawar dengan Nabi, Utsman segera membelinya seharga 20.000 dirham. Ash-Shalabi menekankan bahwa Utsman tidak hanya membelinya, tetapi mewakafkannya secara total untuk kepentingan umum, bahkan ia sendiri ikut mengantre air bersama rakyat jelata (Ash-Shalabi, 2013: 112).
Ini adalah aset wakaf paling ikonik. Terletak di wilayah Wadi al-Aqiq, Madinah. Sumur tersebut masih mengeluarkan air hingga sekarang. Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Pertanian dan Kantor Wakaf mengelola area di sekitar sumur tersebut sebagai perkebunan yang produktif (Ash-Shalabi, 2013: 112).
b. Jaisyul Usrah
Pada ekspedisi Tabuk yang penuh kesulitan (musim panas dan krisis ekonomi), Utsman memberikan kontribusi yang membuat Rasulullah Saw tercengang. Utsman menyumbangkan 1.000 dinar emas, 300 unta lengkap dengan pelananya, dan 50 ekor kuda.
Said Ramadhan al-Buthy mengutip pernyataan Nabi Saw saat itu: “Apa yang dilakukan Utsman setelah hari ini tidak akan membahayakannya (dosanya diampuni)” (Al-Buthy, 2006: 415). Ini adalah puncak dari pengakuan atas ketulusan hartawan langit ini.
c. Perkebunan Kurma “Utsman bin Affan”
Berawal dari area di sekitar Sumur Rumiyah, tumbuhlah ribuan pohon kurma yang dikelola secara turun-temurun. Saat ini, terdapat sekitar 1.550 pohon kurma di kebun tersebut. Hasil panen kurma ini dijual ke pasar, dan keuntungannya dibagi dua: setengahnya dibagikan kepada anak yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi disimpan dalam rekening khusus atas nama “Utsman bin Affan” untuk pengembangan wakaf lebih lanjut.
d. Rekening Bank Atas Nama Utsman bin Affan
Ini adalah fenomena unik di dunia modern. Karena wakaf ini dikelola secara profesional oleh negara (Kementerian Awqaf Arab Saudi), keuntungan dari hasil kebun kurma terus menumpuk di sebuah rekening bank resmi atas nama beliau.
