Kelembutan dan Kedermawanan ‘Pemilik Dua Cahaya’ Utsman bin Affan
Ilustrasi: Kaligrafi “Utsman bin Affan” di Masjid Hagia Sophia, Istanbul.
DALAM sejarah Islam, jika Abu Bakar adalah simbol keteguhan dan Umar bin Khattab adalah personifikasi keadilan yang tegas, maka Utsman bin Affan adalah perlambang kelembutan yang paripurna.
Di tengah kultur masyarakat Arab yang keras dan menjunjung tinggi superioritas fisik, Utsman hadir dengan karakter yang kontras: pemalu, lembut, namun memiliki kedermawanan yang melampaui logika materi. Ia adalah prototipe Muslim kaya yang meletakkan dunia di genggaman tangan, bukan di dalam hati.
Nasab dan Fajar Keislaman Sang Dermawan
Utsman bin Affan bin Abi al-Ash lahir di Mekkah sekitar lima tahun setelah kelahiran Rasulullah Saw. Ia berasal dari klan Bani Umayyah, sebuah garis keturunan bangsawan Quraisy yang berpengaruh dalam urusan politik dan perdagangan.
Ali Muhammad Ash-Shalabi mencatat bahwa sejak masa muda, Utsman telah dikenal sebagai pedagang yang sukses, jujur, dan memiliki perilaku yang bersih dari noda jahiliyah seperti menyembah berhala atau meminum khamr (Ash-Shalabi, 2013: 24).
Hidayah menyapa Utsman melalui perantara Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketertarikannya pada Islam didorong oleh kejujuran Rasulullah Saw yang telah ia kenal lama.
Ibnu Hisyam mencatat bahwa Utsman termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam) dan mengalami siksaan berat dari pamannya sendiri, Hakam bin Abi al-Ash, yang mengikatnya dan bersumpah tidak akan melepaskannya sebelum Utsman meninggalkan agama Muhammad (Ibnu Hisyam, 1994: 162). Namun, kelembutan Utsman menyimpan baja keteguhan; ia tidak goyah sedikit pun hingga akhirnya ia diizinkan berhijrah.
Karakter Utsman: Antara Kesantunan dan Rasa Malu yang Menawan
Karakter paling distingtif dari Utsman adalah al-Haya’ (rasa malu). Namun, malu di sini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan mahkota kemuliaan.
Said Ramadhan al-Buthy dalam analisisnya menjelaskan bahwa rasa malu Utsman adalah cermin dari kedekatannya dengan Allah (Muraqabah), yang membuatnya sangat berhati-hati dalam setiap tindakan (Al-Buthy, 2006: 342).
Ketinggian akhlak ini diakui langsung oleh Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat yang dikutip oleh Imam As-Suyuthi, Rasulullah Saw pernah merapikan pakaiannya saat Utsman hendak masuk menemuinya, padahal sebelumnya beliau santai saat Abu Bakar dan Umar bertamu.
Nabi Saw bersabda: “Bagaimana aku tidak merasa malu kepada seseorang yang para malaikat saja malu kepadanya?” (As-Suyuthi, 2003: 148). Kelembutan tutur katanya dan keramahannya membuat siapa pun yang berinteraksi dengannya merasa dimuliakan.
