Kadin: Selat Hormuz Terganggu, Ekspor RI Terhambat
Jakarta, (Mediaislam.id)–Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Ir. Mohamad Bawazeer, mengatakan perang Amerika–Israel melawan Iran membuat perdagangan Indonesia ke negara-negara Timur Tengah sangat terganggu. Ribuan kapal, termasuk dari Indonesia, kini tertahan di Pelabuhan Jabal Ali, Dubai, Uni Emirat Arab, akibat penutupan Selat Hormuz.
“Itu di Jabal Ali, ribuan kapal barang dan kargo tertahan ibarat ikan yang mengapung,” ujar Bawazeer, didampingi Ketua Komite Tetap Kadin Timur Tengah Rudy Radjab, di Jakarta, Jumat (3 April 2026).
Bawazeer menjelaskan, ada dua cara yang bisa dilakukan pengusaha dan perusahaan pelayaran (shipping line) untuk keluar dari situasi tersebut. Pertama, menunggu kesempatan masuk pelabuhan untuk bongkar muat. Kedua, menurunkan barang ke kapal (vessel) kecil, kemudian melanjutkan pengiriman melalui jalur darat.
“Kalau menunggu, sampai kapan? Barang-barang bisa rusak, terutama bahan makanan, bumbu masak, dan kopi. Sementara kondisi perang semakin tidak menentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian pengusaha memilih opsi kedua meski berisiko karena biaya pengiriman meningkat hingga tiga kali lipat. “Tadi malam saya mendapat informasi dari rekan pengusaha yang menurunkan barang ke kapal kecil di Pelabuhan Dammam, lalu melanjutkan pengiriman melalui darat. Kalau tidak dilakukan, barang akan rusak dan pabrik mereka di Arab Saudi bisa berhenti beroperasi,” katanya.
Sebelumnya, Bawazeer merinci bahwa seluruh shipping line dari Asia Pasifik biasanya transit di Jabal Ali atau melewati Selat Hormuz sebelum menuju tujuan akhir. Biaya normal sekitar 2.000 dolar AS per kontainer 20 kaki. Namun kini meningkat menjadi hampir 6.000 dolar AS per kontainer.
Kontainer yang tertahan di Jabal Ali dan tidak bisa keluar melalui Selat Hormuz kemudian dipindahkan ke kapal kecil dan dikirim ke Pelabuhan Dammam. Di sana, terdapat tambahan biaya sekitar 1.750 dolar AS. Setelah proses custom clearance selesai, barang langsung dikirim ke Jeddah atau kota tujuan lain melalui jalur darat, dengan tambahan biaya sekitar 800 dolar AS.
Dalam kondisi normal, pengiriman dari Indonesia ke Jeddah melalui Jabal Ali memakan waktu sekitar satu minggu transit, lalu langsung ke Jeddah melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Kini, waktu pengiriman bisa mencapai berbulan-bulan.
“Yang lebih parah, beberapa perusahaan pelayaran tidak berani mengeluarkan nomor booking karena risiko perang, sehingga memilih wait and see. Ada juga yang menghindari Bab el-Mandeb dengan memutar melalui Afrika, sehingga waktu pengiriman bisa sampai dua bulan. Padahal normalnya hanya 15–20 hari sudah tiba di Pelabuhan Jeddah,” jelasnya.
Selain itu, ada pula perusahaan pelayaran yang menurunkan kontainer di Oman atau India tanpa kejelasan lanjutan pengiriman, sehingga kontainer seolah menjadi tidak bertuan.
Harapan
Bawazeer berharap perang segera berakhir agar jalur perdagangan ke negara-negara Timur Tengah kembali normal. Ia juga mengimbau agar konflik tidak meluas ke kawasan negara-negara Teluk.
“Namun ini perang. Kita tidak tahu taktik dan strategi yang dimainkan. Harapan kita jalur perdagangan ke negara-negara Arab bisa kembali normal,” ujarnya.
Perdagangan Indonesia ke negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, di luar sektor minyak dan gas, cukup besar. Di negara tersebut terdapat pabrik kopi Kapal Api dan Indomie yang bahan bakunya berasal dari Indonesia. Jika jalur perdagangan terus terganggu, bukan tidak mungkin operasional pabrik ikut terhenti.
Selain itu, kerja sama perdagangan juga mencakup sektor ekonomi digital, properti, pertambangan, agroindustri, pariwisata, manufaktur, hingga olahraga sepak bola.*
