Jumat Terakhir di Kota Makkah: Haji sebagai Panggilan Allah, Muhasabah, dan Penguat Persatuan Umat

 Jumat Terakhir di Kota Makkah: Haji sebagai Panggilan Allah, Muhasabah, dan Penguat Persatuan Umat

Khotib: Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I

Masjid Sofwat Al Hijaz, Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi

Jumat, 19 Juni 2026

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan kepada kita untuk hadir dan melaksanakan ibadah di tanah suci.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

InsyaAllah, semoga kita semua menjadi hamba Allah dan umat Nabi Muhammad SAW yang memperoleh kemuliaan serta keselamatan di dunia dan akhirat; mendapatkan ampunan, ridha, dan rahmat Allah; memperoleh syafaat Rasulullah SAW; serta dilindungi dari siksa dan api neraka.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Khotib berpesan kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT. Dengan iman dan takwa, insyaAllah kita akan memperoleh keselamatan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat.

Hari ini kita berada pada Jumat terakhir di Kota Makkah. InsyaAllah besok pagi kita akan bergeser menuju Kota Madinah Al-Munawwarah. Sering kita mendengar ungkapan bahwa ibadah haji adalah panggilan Allah.

Mengapa disebut demikian? Karena begitu banyak orang yang memiliki keinginan kuat untuk menunaikan ibadah haji, tetapi tidak semuanya dapat berangkat. Ada yang memiliki kemampuan finansial tetapi kondisi kesehatannya belum memungkinkan. Ada yang sehat tetapi belum memiliki kecukupan biaya. Ada pula yang memiliki keduanya, tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan.

Kita belajar dari masa wabah Covid beberapa waktu lalu. Saat itu kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia tidak dapat melaksanakan ibadah haji sebagaimana biasanya.

Namun hari ini, Allah memilih kita. Allah memanggil kita. Pertanyaannya, mengapa kita dipilih? Mengapa kita dipanggil?

Sebagai bentuk tahadduts bin ni‘mah (mensyukuri nikmat Allah), kita meyakini bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang baik bagi kita.

Panggilan menuju Kota Suci bukan sekadar untuk melihat Ka’bah, bukan hanya menyaksikan Masjidil Haram, Arafah, atau Mina.

Tetapi agar kita mengenal jati diri kita: Dari mana kita diciptakan. Untuk apa kita diciptakan. Dan bagaimana tanggung jawab kita setelah diciptakan oleh Allah.

Para ulama sufi mengatakan: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Ibadah haji mengajarkan kita mengenal Rabb semesta alam. Kita tidak menyembah Ka’bah. Kita menyembah Pemilik Ka’bah, Pencipta Ka’bah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu kita mengucapkan:  Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik.

Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu dengan penuh iman, keikhlasan, ketundukan, dan kerendahan hati.

 

Pertama: Haji Mengajarkan Muhasabah Diri

Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah berkata: “Hisabul anfusakum qabla an tuhasabu.” “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Hitungan manusia mungkin bisa dimanipulasi, tetapi catatan malaikat tidak pernah salah.

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Berapa banyak amal yang telah kita lakukan? Berapa banyak tetangga yang merasa terbantu oleh infak dan sedekah kita? Berapa banyak harta yang telah kita keluarkan zakat, wakaf, dan sedekahnya? Berapa banyak anak yatim dan kaum dhuafa yang terbantu karena keberadaan kita?

Muhasabah mengajarkan bahwa harta bukan sekadar untuk disimpan. Apa yang kita simpan belum tentu menjadi manfaat. Bisa jadi hanya menjadi cerita. Di Makkah kita belajar tentang kedermawanan.

Banyak pedagang yang ketika dagangannya tidak habis, mereka memilih membagikannya. Mereka percaya kepada janji Allah. Mereka berdagang dengan ikhtiar, tetapi menyerahkan urusan rezeki kepada Allah. Allah berfirman bahwa tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah telah menjamin rezekinya.

Pelajaran besar bagi kita adalah: mudah menerima rezeki dari Allah dan mudah pula membagikannya kepada sesama.

 

Kedua: Haji Mengajarkan Persatuan dan Penghormatan atas Perbedaan

Di Masjidil Haram kita bertemu kaum muslimin dari berbagai negara, budaya, dan mazhab. Ada yang membaca basmalah dengan jahr, ada yang sirr. Ada yang berzikir setelah salat, ada yang langsung beraktivitas. Ada yang cara takbir dan posisi tangannya berbeda.

 

Namun tidak ada saling menyalahkan. Semua tetap bersaudara. Karena tujuan kita sama: mencari ridha Allah.

Perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi rahmat. Tetapi jika perbedaan terus diperbesar, umat akan sulit bersatu.

Maka pelajaran dari haji adalah memperkuat: Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Imaniyah, dan Ukhuwah Insaniyah.

Kita dipanggil ke Makkah untuk dididik menjadi duta kebaikan.

Ketika kembali ke Indonesia, kita membawa ilmu, pengalaman, dan keteladanan.

 

Ketiga: Haji Menguatkan Semangat Dakwah

Rasulullah SAW memandang umat menjadi dua kelompok:

Ummatud Dakwah — mereka yang masih perlu diajak dan dikenalkan kepada Islam.

Dan Ummatul Istijabah — mereka yang telah menerima Allah sebagai Tuhan, Nabi Muhammad sebagai Rasul, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Mereka berkata: “Radlitu billahi Rabba, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin nabiyyan wa rasula.”

Namun tugas dakwah tidak berhenti.

Masih ada manusia yang belum mengenal Islam.

Tugas kita adalah menyampaikan Islam dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan.

Sebagaimana Mus‘ab bin Umair yang lebih dahulu datang ke Yasrib sebelum hijrahnya Rasulullah.

Beliau mengenalkan Al-Qur’an, mengenalkan Islam, hingga masyarakat Yasrib mencintai Rasulullah sebelum bertemu langsung.

Ketika Rasulullah datang, mereka menyambut dengan penuh kegembiraan:

Thala‘al badru ‘alaina min tsaniyyatil wada‘…

Dan Yasrib berubah menjadi Madinatul Munawwarah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

InsyaAllah pelajaran yang kita peroleh di Kota Makkah dan yang akan kita lanjutkan di Kota Madinah menjadi bekal untuk pulang dan menyebarkan kebaikan.

Yang sudah beriman semakin kuat imannya.

Yang belum mencintai Islam menjadi mencintainya.

Yang belum mengenal Allah dan Rasul-Nya mendapat jalan hidayah.

Semoga Allah menerima seluruh ibadah kita, menjadikan kita haji yang mabrur, serta mempertemukan kita kembali dengan kebaikan-kebaikan berikutnya.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − nine =