JIC, Fatayat NU, dan OREO Dorong Ibu Ciptakan Pembelajaran Seru di Rumah

 JIC, Fatayat NU, dan OREO Dorong Ibu Ciptakan Pembelajaran Seru di Rumah

JAKARTA (Mediaislam.id) — Jakarta Islamic Centre (JIC), Fatayat NU, dan OREO berkolaborasi mendorong para ibu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan bermakna bagi anak sejak dari rumah.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program “Berbagi Inspirasi” bertajuk “Dorong Generasi Tumbuh Lebih Bermakna Melalui Pembelajaran Seru”. Kegiatan berlangsung di Convention Hall pada Sabtu (5/9/2026) dan diikuti dengan edukasi serta penguatan kapasitas bagi para ibu.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ), KH. Muhyiddin Ishaq, mengatakan rumah memiliki posisi penting dalam pendidikan anak. Sebelum mengenal sekolah dan pendidikan formal, anak terlebih dahulu belajar dari lingkungan keluarga.

“Kami percaya bahwa anak membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan bereksplorasi. Rumah adalah tempat pertama anak belajar mengenal kehidupan. Karena itu, penguatan kapasitas orang tua, khususnya ibu, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang ramah terhadap anak,” ujar KH. Muhyiddin Ishaq.

Menurut dia, pembelajaran yang menyenangkan tidak hanya membantu anak memahami sesuatu dengan lebih mudah. Suasana belajar yang positif juga dapat mendukung kepercayaan diri, rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian anak untuk mencoba.

Karena itu, orang tua tidak perlu memandang proses belajar sebatas mengerjakan tugas atau mengejar nilai.

“Mendampingi anak belajar bukan semata-mata tentang memberikan materi atau memastikan anak mendapatkan nilai yang baik. Lebih dari itu, proses belajar adalah tentang membangun hubungan, mendengarkan anak, memberikan kesempatan untuk mencoba, dan menciptakan pengalaman yang membuat anak merasa dihargai,” lanjutnya.

Penguatan peran ibu juga menjadi perhatian Fatayat NU. Ketua Fatayat NU DKI Jakarta, Hj. Kusnainik, M.AP, mengatakan ibu memiliki posisi strategis dalam menciptakan lingkungan belajar pertama bagi anak.

“Kami meyakini bahwa ibu memiliki peran strategis dalam menghadirkan lingkungan yang mendukung proses belajar anak sejak dari rumah. Sebagai organisasi perempuan, Fatayat NU terus mendorong para ibu untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Kusnainik menilai upaya membangun lingkungan ramah anak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, organisasi perempuan, lembaga keagamaan, pendidik, komunitas, dunia usaha hingga masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, OREO turut mendukung ruang edukasi mengenai pentingnya aktivitas belajar yang menyenangkan bersama keluarga. Psikolog Anak dan Keluarga, Irma Gustiana A., S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan anak akan lebih mudah belajar ketika merasa aman secara emosional, dihargai, dan memiliki kesempatan bereksplorasi tanpa takut melakukan kesalahan.

“Suasana belajar yang menyenangkan juga dapat membangun rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian mencoba hal baru,” jelas Irma.

Irma mengatakan orang tua tidak harus selalu berperan sebagai guru secara formal. Orang tua dapat menjadi teman belajar yang mendampingi anak menemukan pengalaman baru melalui aktivitas sehari-hari.

Bermain bersama, misalnya, dapat menjadi sarana mengajarkan komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. Membaca cerita dapat menumbuhkan imajinasi, sedangkan memasak bersama dapat mengenalkan konsep angka, ukuran, warna, sekaligus tanggung jawab.

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah belajar sambil bermain atau playful learning. Pendekatan ini memungkinkan anak memperoleh pengalaman belajar melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangannya.

Aktivitas tersebut dapat dipadukan dengan literasi, numerasi, sains, bahasa, kreativitas, komunikasi, dan permainan. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mendapat kesempatan mencoba, mengamati, bertanya, menemukan, dan menarik kesimpulan melalui pengalaman langsung.

Para ibu juga mengikuti sesi simulasi dan praktik menggunakan berbagai media pembelajaran kreatif. Pendekatan tersebut selanjutnya dapat disesuaikan di rumah berdasarkan usia, kebutuhan, karakter, dan minat masing-masing anak.

Muhyiddin menegaskan, pendidikan dan pendampingan anak merupakan tanggung jawab bersama. Menurut dia, nilai-nilai keislaman juga perlu hadir dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam cara orang tua mendampingi, mendidik, melindungi, dan membangun karakter anak.

“Anak adalah bagian penting dari masa depan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Karena itu, memberikan pendidikan yang baik, lingkungan yang aman, serta pendampingan yang penuh kasih sayang merupakan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai keislaman juga mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga amanah, memberikan keteladanan, dan mendidik generasi dengan penuh kasih sayang,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem ramah anak dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya menjangkau lebih banyak keluarga.

“Membangun ekosistem ramah anak bukan pekerjaan satu lembaga. Ini adalah tanggung jawab bersama. Ketika keluarga kuat, lingkungan mendukung, dan masyarakat memiliki kepedulian terhadap anak, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Country Head of Corporate and Government Affairs Mondelēz Indonesia, Marfusita Hamburgiwati, mengatakan kolaborasi bersama Fatayat NU merupakan bagian dari komitmen OREO menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan, interaktif, dan bermakna bagi anak melalui momen kebersamaan keluarga.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 3 =