Empat Kelompok Manusia Pasca Ibadah Haji

 Empat Kelompok Manusia Pasca Ibadah Haji

Ilustrasi jemaah haji 2023 asal Bogor, Jawa Barat

Kelompok Kedua: Haji yang Mencari Dunia dan Akhirat

Kelompok kedua dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 201: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Imam Showi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan motivasi bagi umat Islam agar senantiasa memohon kebahagiaan dunia dan akhirat (Sa’adatud Daarain).

Allah SWT memuji orang-orang yang memohon kedua kebaikan tersebut secara seimbang.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering membaca doa:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan kisah seorang sahabat yang sakit parah. Ia pernah berdoa agar siksa akhirat disegerakan di dunia. Ketika Rasulullah SAW menjenguknya, beliau menegur doa tersebut dan mengajarkan doa:

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” Setelah membaca doa tersebut, Allah SWT menyembuhkan penyakitnya. (HR. Ahmad bin Hanbal, Juz 3, hlm. 107).

Kelompok Ketiga: Haji yang Munafik, Lisannya Baik tetapi Hatinya Busuk

Kelompok ketiga dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 204–206. Menurut Tafsir Jalalain, kelompok ini memiliki ucapan yang memukau dan tampak baik di hadapan manusia. Namun di dalam hatinya tersimpan kebencian terhadap kebenaran.

Asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan seorang munafik bernama Akhnas bin Syuraiq. Ia sering berbicara manis di hadapan Rasulullah SAW, tetapi diam-diam memusuhi Islam dan kaum muslimin. Bahkan disebutkan bahwa ia merusak tanaman kaum muslimin dan membunuh hewan ternak mereka.

Imam Showi menambahkan bahwa Akhnas memiliki ratusan pengikut dari kalangan munafik. Ia terkenal sebagai sosok yang berusaha mengambil keuntungan dari setiap keadaan tanpa menunjukkan sikap yang jelas terhadap Islam.

Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Ayat berikutnya menjelaskan tiga tanda utama orang munafik:

1. Merusak tanaman dan sumber daya alam.
2. Merusak sumber daya manusia dan masa depan generasi.
3. Bersikap sombong dan angkuh ketika dinasihati.

Imam Showi menjelaskan bahwa kesombongan tersebut pada akhirnya akan menghancurkan pelakunya sendiri. Mereka merusak lingkungan, menghancurkan harapan masyarakat, dan merusak masa depan peradaban manusia.

(Tafsir Showi Al-Maliki, Juz 1, hlm. 95).

Kelompok Keempat: Haji yang Hanya Mencari Ridha Allah SWT

Kelompok terakhir dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 207:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.”

Menurut Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Sa’id bin Musayyab, Abu Utsman An-Nahdi, Ikrimah, dan sejumlah ulama lainnya, ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi.

Ketika hendak berhijrah dari Makkah ke Madinah, Shuhaib dihalangi oleh kaum Quraisy. Mereka tidak mengizinkannya membawa harta yang telah dimilikinya.

Shuhaib kemudian menawarkan seluruh hartanya agar ia dapat melanjutkan hijrah demi mempertahankan keimanan dan bergabung dengan Rasulullah SAW di Madinah.

Setelah sampai di hadapan Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Beruntunglah engkau wahai Shuhaib.” Lalu turunlah ayat: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.”

Mayoritas ulama berpendapat bahwa ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang berjuang di jalan Allah SWT dengan penuh keikhlasan.

Kesimpulan

Dari penjelasan ayat-ayat tersebut, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil.

Pertama, sebagai muslim yang beriman dan bertakwa, kita wajib menghindari segala tindakan yang merugikan kehidupan dunia dan akhirat. Jangan sampai hidup hanya berorientasi pada dunia semata dan melupakan akhirat.

Kedua, Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang muslim harus berusaha meraih kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus agar memperoleh kesejahteraan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Ketiga, setiap muslim wajib menjauhi sifat-sifat kemunafikan. Sebab sekecil apa pun kemunafikan akan terbongkar di dunia maupun di akhirat, dan menjadi sebab kehinaan di hadapan Allah SWT.

Keempat, kehidupan yang berorientasi pada ampunan, rahmat, dan ridha Allah SWT merupakan kehidupan yang paling mulia dan paling tinggi nilainya di sisi-Nya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan yang memperoleh haji mabrur, hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan, serta dijauhkan dari segala mara bahaya dunia dan akhirat.

Amin Ya Rabbal Alamin.

والله أعلم بالصواب

KH Badruddin Subky
Pimpinan Ponpes Al Badar Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + 16 =