Diikuti Perwakilan 10 Negara, MQK Internasional Pertama Resmi Dibuka
Menag Nasaruddin Umar membuka Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 di Pesantren As’adiyah di Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (2/10/2025).
Makassar (Mediaislam.id) – Secara resmi Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 di Pesantren As’adiyah di Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), dibuka oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. MQK diikuti oleh delegasi dari 10 negara.
“Ini menjadi momentum bersejarah, karena untuk kali pertama santri Indonesia berkompetisi membaca kitab kuning bersama delegasi internasional,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Wajo, Kamis (02/10/2025).
Nasaruddin mengatakan, MQK Internasional ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah silaturahim ulama, santri, dan akademisi lintas negara.
MQK Internasional 2025 mengusung tema merawat lingkungan dan menebar perdamaian. Delegasi dari 10 negara yang ikut yakni, Myanmar, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunai Darussalam, Kamboja, Singapura, Timor Leste, Vietnam, dan tuan rumah Indonesia.
“Merawat lingkungan, dan menjaga perdamaian adalah tema kita. Kaitannya dengan perubahan iklim dan persoalan perang yang harus segera diakhiri,” kata Menag Nasaruddin Umar.
Menag Nasaruddin juga menyoroti dampak perang Rusia-Ukraina dan Israel dengan beberapa negara sekitar di kawasan Timur Tengah itu yang telah menelan korban sebanyak 67 ribu orang lebih.
Sementara kematian atas perubahan iklim (climate change) per 2025 ini telah menelan jiwa sebanyak 4 juta orang lebih.
“Kita bisa membandingkan betapa berbahayanya dampak kematian akibat perubahan iklim dibandingkan dengan akibat perang. Itulah, kenapa kami mengangkat tema merawat lingkungan dan menjaga perdamaian dalam MQK ini,” kata dia.
Menurut Nasaruddin, perubahan iklim yang terjadi disebabkan karena adanya perilaku manusia yang tidak sepantasnya dalam memperlakukan alam dan perlunya bahasa agama mengambil peran.
Rektor Universitas PTIQ Jakarta itu berharap MQK Internasional dapat menjadi ajang untuk memperdalam pembahasan tentang ajaran-ajaran agama dan menjaga alam.
“Mari kita eksplorasi ajaran turats tentang pelestarian lingkungan. Kini saatnya Kemenag mensponsori apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni kerja sama antara manusia, alam, dan Tuhan,” tuturnya.
