KTT AlBaraka Ke-5 di London: Aset Ekonomi Syariah Global Tembus 6 Triliun Dolar AS

 KTT AlBaraka Ke-5 di London: Aset Ekonomi Syariah Global Tembus 6 Triliun Dolar AS

KTT AlBaraka di London. [AA]

London (Mediaislam.id) — KTT AlBaraka ke-5 resmi dibuka di London pada hari Selasa, mempertemukan para pemimpin keuangan Islam global untuk membahas prinsip-prinsip etika, kerangka regulasi, serta peluang teknologi dan keuangan di sektor tersebut.

Pertemuan puncak ini mengumpulkan para peserta untuk mendiskusikan penerapan prinsip etika keuangan Islam, kerangka kerja regulasi, serta potensi kemajuan teknologi dan finansial.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam KTT tersebut, sektor keuangan Islam global kini telah mencapai nilai 6 triliun dolar AS, dengan penerbitan sukuk secara global berdiri di angka 1 triliun dolar AS. Sementara itu, sektor ekonomi konsumen syariah global tumbuh hingga mencapai 2,6 triliun dolar AS.

Baca juga: KTT Tahunan AlBaraka di London Bahas Peran Keuangan Syariah bagi Ekonomi Global

Bank-bank syariah dapat mendorong lembaga pemberi pinjaman konvensional untuk meningkatkan standar mereka dengan cara menjalankan tanggung jawab dan menerapkan prinsip-prinsip etika secara nyata, ujar Sekretaris Jenderal Forum AlBaraka untuk Ekonomi Islam, Yousef Hassan Khalawi, pada Selasa (13/10).

Nilai-Nilai Etika Harus Tercermin dalam Praktik Sehari-hari

Berbicara pada pembukaan acara, Khalawi menyampaikan bahwa mengorganisasi kegiatan internasional mengenai ekonomi Islam merupakan sebuah tantangan besar.

Ia mencatat bahwa AlBaraka telah menyelenggarakan berbagai forum di kota-kota besar termasuk Istanbul, Karachi, dan Kairo, seraya menekankan bahwa inisiatif ini menjangkau lebih luas dari sekadar sektor keuangan syariah semata.

Inisiatif ini menyangkut masa depan seluruh umat manusia, tegasnya. Ia memperingatkan bahwa semua pihak akan menanggung akibatnya jika para pemangku kepentingan gagal menyadari tanggung jawab mereka untuk mengembangkan model ekonomi yang tepat.

Khalawi memaparkan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai krisis sekaligus, seperti perubahan iklim, gelombang panas ekstrem, kekeringan, krisis pangan, perang, dan kemiskinan yang kian meningkat. Ia menambahkan bahwa berbagai tantangan ini tidak dapat dipandang secara terpisah.

Lebih dari satu miliar jiwa terus berjuang melawan kemiskinan di satu belahan dunia, sementara kekayaan yang sangat melimpah menumpuk di tempat lain, ungkapnya.

Kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dianggap benar-benar berhasil kecuali mampu menghadirkan kesejahteraan bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Khalawi menegaskan bahwa ketimpangan ini berakar dari pengabaian nilai-nilai etika dan ketidakadilan ekonomi.

Oleh karena itu, diskusi mengenai perlindungan anak, keluarga, dan masyarakat dalam ranah media sosial serta kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) harus dipandang lebih luas dari sekadar perdebatan kebijakan teknologi semata.

Hal tersebut berkaitan erat dengan tanggung jawab etis, kesadaran sosial, dan masa depan peradaban manusia, tambahnya, seraya menegaskan bahwa nilai-nilai ini sama krusialnya bagi perbankan syariah.

Khalawi menegaskan bahwa lembaga keuangan Islam tidak boleh puas hanya dengan membedakan bentuk formal produk-produknya. Karakter khas keuangan syariah harus dibuktikan melalui sejauh mana nilai-nilai etika membentuk praktik harian, hubungan dengan nasabah, serta pengambilan keputusan institusional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − five =