Sektor Pertanian Gaza Krisis, Petani Bertahan Garap Lahan Sisa
Ilustrasi: Petani di Gaza [AI]
GAZA (Mediaislam.id)— Di sebidang lahan seluas tujuh dunam (0,7 hektare) di dekat “Garis Kuning”, Mohammed Al-Dahdouh (55) tampak membungkuk di atas ladang kentang kecil. Lahan tersebut hanya bagian kecil dari 40 dunam (4 hektare) lebih tanah yang pernah ia garap.
Garis demarkasi militer yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata memisahkan wilayah pengerahan pasukan Israel dengan wilayah lain di Jalur Gaza. Kondisi ini menjadikan setiap musim tanam sebagai sebuah pertaruhan keselamatan.
Sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, lahan pertanian di Gaza menyusut secara drastis. Pasokan air, listrik, bahan bakar, dan sarana pertanian menjadi langka dengan harga yang melambung tinggi. Meski demikian, Al-Dahdouh, ayah dari enam anak, menolak untuk meninggalkan lahan garapannya.
Setiap gempuran artileri mendekat, ia akan pergi menyelamatkan diri, dan ketika serangan berhenti, ia kembali ke ladangnya.
Perjuangan Al-Dahdouh mencerminkan nasib para petani di seluruh wilayah kantong tersebut. Di Kota Beit Lahia, Gaza utara, Ibrahim Abu Samhadana (42) menanam stroberi, zukini, dan terong sembari tinggal di dalam tenda di samping reruntuhan rumahnya.
Lahan seluas 22 dunam (2,2 hektare) milik keluarganya telah hancur.
“Perang benar-benar telah menghancurkan sektor pertanian,” kata Abu Samhadana.
Meski demikian, ia tetap mengerjakan ladangnya.
“Saya bertekad untuk tetap bertani karena itulah mata pencaharian yang kami kenal sejak kecil,” tutur petani yang juga ayah enam anak tersebut.
Di Gaza selatan, musim jambu biji yang biasanya berlangsung dari September hingga Desember menunjukkan situasi serupa.
Lahan milik Hani Al-Qudra di Khan Younis telah menyusut dari sekitar 1.350 dunam (135 hektare) sebelum perang menjadi sekitar 200 dunam (20 hektare). Jumlah pekerjanya pun berkurang dari sekitar 100 orang menjadi 15 orang.
“Jambu biji merupakan salah satu tanaman terpenting di Jalur Gaza, baik penduduk maupun petani bergantung pada tanaman ini untuk kebutuhan pangan dan peluang kerja,” kata Al-Qudra.
