Sudah Bergelar Doktor, Babe Haikal Kuliah Lagi, Jalani Sidang Skripsi S1 Hukum di UIA
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan seusai menjalani sidang skripsi, Jumat (31/7/2026).
Jakarta (Mediaislam.id)–Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan atau yang akrab disapa Babe Haikal membuktikan bahwa menuntut ilmu tidak mengenal usia maupun jabatan. Meski telah menyandang gelar doktor (S3), ia kembali menempuh pendidikan Sarjana Hukum (S1) di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), Jakarta.
Pada Jumat (31/7/2026), Babe Haikal menjalani sidang skripsi di Fakultas Hukum UIA. Ujian tersebut disaksikan langsung oleh Rektor UIA, Prof. Dr. H. Masduki Ahmad, SH, MM, bersama sejumlah jajaran pengurus Yayasan UIA.
Sebagai pejabat negara, Babe Haikal tetap mengikuti seluruh proses akademik sebagaimana mahasiswa lainnya. Ia menjalani perkuliahan, memenuhi kewajiban akademik, hingga menempuh sidang skripsi tanpa perlakuan khusus.
Skripsi yang diangkatnya membahas Piagam Madinah sebagai fondasi kehidupan berbangsa dalam masyarakat majemuk. Melalui kajian tersebut, ia menegaskan bahwa nilai-nilai Piagam Madinah memiliki relevansi dengan kehidupan bernegara di Indonesia yang berlandaskan Pancasila.
“Di Madinah ada suku bangsa dan agama yang berbeda-beda, maka Nabi menggunakan Piagam Madinah. Di Indonesia juga banyak suku dan agama yang berbeda-beda, maka digunakan Pancasila. Jadi tidak tepat mempertentangkan Pancasila dengan Alquran,” ujar Babe Haikal usai sidang.
Menurut dia, pertanyaan mengenai mana yang lebih baik antara Pancasila dan Alquran merupakan cara pandang yang keliru. Sebab, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan berbangsa di Indonesia, sebagaimana Piagam Madinah menjadi kesepakatan hidup bersama masyarakat Madinah pada masa Rasulullah SAW.
Ia juga menyoroti pentingnya memegang teguh kesepakatan nasional. Babe Haikal mengaitkan hal itu dengan isi Piagam Madinah yang mewajibkan seluruh pihak menaati perjanjian yang telah disepakati bersama.
“Kalau sudah disepakati, semua harus taat. Begitu juga kita, taat kepada Pancasila dan UUD 1945 karena itu merupakan kesepakatan bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Babe Haikal mengungkapkan alasannya memilih Fakultas Hukum Universitas Islam As-Syafi’iyah. Menurut dia, kualitas pendidikan hukum di kampus tersebut menjadi pertimbangan utama.
“Saya sudah memilih dan memilah. Menurut saya, yang paling baik dengan orang-orang hukum di belakangnya adalah Universitas Islam As-Syafi’iyah. Di sini hukum benar-benar dipraktikkan,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku pernah beberapa kali mengulang mata kuliah karena tidak memenuhi ketentuan kehadiran. “Saya pernah tidak lulus karena tidak pernah hadir. Dosen menyampaikan, minimal hadir dua atau tiga kali baru bisa dipertimbangkan. Jadi saya menjalani proses yang sama seperti mahasiswa lainnya,” kata dia.
Babe Haikal mengatakan, program Sarjana Hukum tersebut merupakan pendidikan S1 ketiganya. Saat ini ia juga masih menempuh pendidikan S1 Psikologi di perguruan tinggi lain. Namun, ia mengaku tidak ingin dikenal karena deretan gelar akademiknya.
“Saya tidak mau mencantumkan gelar. Cukup dipanggil Babe Haikal. Yang penting bukan gelarnya, tetapi mendapatkan ilmu di tempat yang tepat,” ujarnya.*
