Habib Rizieq Dukung Peluncuran Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual

 Habib Rizieq Dukung Peluncuran Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual

Jakarta (Mediaislam.id) – Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, menyatakan dukungan penuh terhadap peluncuran Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual (GENAP) yang digagas berbagai organisasi Islam, majelis taklim, pondok pesantren, dan tokoh masyarakat.

Menurutnya, GENAP diharapkan menjadi lokomotif perjuangan nasional dalam mendorong lahirnya regulasi anti-LGBTQ di seluruh Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Habib Rizieq melalui sambungan dari Kuala Lumpur, Malaysia, dalam Seminar Regulasi Anti-LGBTQ di Markaz Syariah Petamburan, Jakarta, Rabu lalu (22/7/2026).

Di hadapan para pimpinan ormas Islam, majelis taklim, pondok pesantren, dan tokoh masyarakat, Habib Rizieq mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut. Menurutnya, gerakan LGBTQ saat ini telah berkembang menjadi ancaman serius yang harus direspons secara bersama.

“Saya mengapresiasi digelarnya seminar regulasi anti-LGBTQ dengan mengundang pimpinan ormas, majelis taklim, pondok pesantren dan para tokoh, karena gerakan LGBTQ saat ini sudah sangat-sangat membahayakan,” ujarnya.

Habib Rizieq mengaku bersyukur karena sejak Oktober 2025 pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029. Dalam regulasi tersebut penyebaran budaya LGBTQ telah dimasukkan sebagai ancaman nonmiliter terhadap bangsa dan negara.

“Saya bersyukur kepada Allah SWT. Sejak bulan Oktober tahun 2025 Bapak Presiden Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 yang menetapkan LGBTQ sebagai ancaman nonmiliter yang sangat membahayakan bagi bangsa dan negara,” katanya.

Ia menilai kebijakan tersebut menjadi landasan penting bagi berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan terhadap penyebaran budaya LGBTQ.

Habib Rizieq menyambut gembira lahirnya GENAP yang dimotori berbagai organisasi Islam, majelis taklim, pondok pesantren, serta tokoh-tokoh Islam.

Menurutnya, gerakan ini diharapkan mampu mengoordinasikan perjuangan di berbagai daerah sekaligus mendorong lahirnya regulasi di tingkat nasional.

“Semoga GENAP sebagai Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual di Indonesia ini bisa menjadi lokomotif gerakan anti-LGBTQ melalui perjuangan penuntutan perda-perda anti-LGBTQ di berbagai daerah.”

Ia menambahkan, perjuangan di daerah harus berjalan bersamaan dengan dorongan pembentukan undang-undang di tingkat nasional.

“Pada saat yang sama secara simultan dilakukan perjuangan penuntutan undang-undang anti di tingkat pusat, insya Allah.”

Habib Rizieq bahkan meyakini gerakan tersebut akan berkembang melampaui Indonesia. “Saya yakin gerakan anti ini akan menjadi gerakan besar bukan saja di Indonesia bahkan di seluruh dunia, karena semua umat beragama di mana pun mereka berada saat ini telah dibuat resah oleh maraknya gerakan LGBTQ.”

Dalam pesannya, Habib Rizieq menilai isu LGBTQ memiliki daya mobilisasi umat yang sangat besar. Ia membandingkannya dengan isu penodaan Al-Qur’an pada 2016 yang melahirkan Aksi 411 dan Aksi 212.

“Daya sengat isu LGBTQ saat ini sama dengan daya sengat isu penodaan Al-Qur’an di tahun 2016 yang telah melahirkan Aksi 411 dan Aksi 212 yang fenomenal.”

Menurutnya, kedua isu tersebut sama-sama mampu menyatukan umat Islam dalam sebuah gerakan bersama. Karena itu, ia optimistis GENAP akan berkembang menjadi gerakan yang semakin besar.

“Saya yakin gerakan yang diusung GENAP ini insya Allah akan menjadi bola salju yang terus bergulir semakin besar dan semakin banyak mendapat dukungan masyarakat luas.”

Habib Rizieq juga memberikan apresiasi terhadap logo GENAP yang menurutnya sarat makna.

Ia menjelaskan bahwa kata “GENAP” menggambarkan gerakan yang “tidak ganjil” atau “tidak aneh”, sekaligus bermakna menggenapkan atau menyempurnakan akhlak, sesuai misi kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, kata “Gerakan” menunjukkan perjuangan yang terorganisasi dan memiliki sistem. “Gerakan ini merupakan sebuah gerakan yang terkoordinir dan tersistem.”

Sementara kata “Nasional” menunjukkan bahwa perjuangan tersebut mencakup seluruh wilayah Indonesia dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan gerakan individu.

Ia bahkan berharap ke depan gerakan tersebut berkembang menjadi gerakan internasional.

Habib Rizieq juga menjelaskan penggunaan istilah “Penyimpangan Seksual” dimaksudkan agar ruang lingkup perjuangan GENAP tidak hanya terbatas pada LGBTQ, tetapi juga mencakup bentuk-bentuk penyimpangan seksual lain yang menurutnya perlu mendapat perhatian.

Habib Rizieq turut mengulas unsur visual pada logo GENAP. Menurutnya, penggunaan bintang lima menjadi simbol komitmen terhadap Rukun Islam, sementara jumlah enam unsur bintang melambangkan enam rukun iman.

Ia juga menilai warna merah putih dalam logo mencerminkan semangat kebangsaan Indonesia.

Sementara tulisan hitam di atas latar putih menggambarkan ketegasan sikap gerakan tersebut.

Adapun gambar keluarga dalam perisai dan di bawah payung dimaknai sebagai simbol perlindungan terhadap keluarga.

Di akhir penyataannya, Habib Rizieq mengajak seluruh peserta seminar serta masyarakat untuk bersama-sama mendukung Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual.

“Saya mengajak semua tokoh, semua elemen masyarakat mari bersama-sama dengan ucapan basmalah, takbir dan selawat kita sambut dan resmikan bersama GENAP, Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual, sebagai lokomotif perjuangan anti-LGBTQ di Indonesia bahkan dunia,” pungkasnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + nine =