Kisah Kesatriaan dan Kesetiaan: Raja An-Nu’man dan Hanzhalah

 Kisah Kesatriaan dan Kesetiaan: Raja An-Nu’man dan Hanzhalah

Ilustrasi [AI]

An-Nu’man bin Al-Mundhir, Raja Hirah, suatu hari pergi berburu. Ia memacu kudanya dengan sangat kencang hingga menjauh dari rombongannya dan tersesat di padang pasir.

Ia terus mencari tempat untuk berlindung dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, sang Raja menemukan seorang pria bernama Hanzhalah yang tinggal berdua bersama istrinya.

Raja yang kelelahan itu meminta makanan dan minuman kepada mereka berdua. Padahal, keluarga miskin tersebut hanya memiliki seekor domba sebagai harta satu-satunya.

Hanzhalah pun memberinya minum dari susu domba itu. Tidak berhenti di situ, ia juga menyembelih domba kesayangannya agar sang tamu bisa makan dari dagingnya.

Pada pagi harinya, An-Nu’man mengenakan pakaiannya dan bersiap menaiki kudanya. Sebelum pergi, ia berkata kepada Hanzhalah, “Mintalah balasanmu. Ketahuilah, aku adalah Raja An-Nu’man.”

Hanzhalah yang tulus hanya tersenyum dan menjawab, “Akan kulakukan nanti, insyaallah.”

Ujian Kemiskinan dan Janji Hukuman Mati

Setelah kejadian itu, An-Nu’man berangkat kembali menuju istananya di Hirah. Sementara itu, Hanzhalah menjalani hidupnya selama beberapa waktu hingga ia ditimpa kemiskinan parah yang membuat keadaannya memburuk.

Istrinya lalu memberikan saran kepadanya. “Seandainya engkau pergi menemui Raja, niscaya ia akan membalas kebaikanmu dan berbuat baik kepadamu,” ucap sang istri.

Maka Hanzhalah pun melakukan perjalanan jauh ke Hirah. Namun malang, kedatangannya pada hari itu bertepatan dengan tradisi mengerikan yang disebut “Hari Kesengsaraan” An-Nu’man.

Pada hari nahas tersebut, sang Raja biasanya pergi ke suatu tempat yang jauh bersama para tentaranya. Ia akan menunggu dan membunuh orang pertama yang kebetulan muncul di hadapannya di tempat itu.

Ketika An-Nu’man melihat orang pertama yang datang, ia langsung mengenalinya. Hatinya merasa sangat gundah melihat Hanzhalah yang kini berdiri pasrah di hadapannya.

Raja lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau orang yang aku pernah singgah di tempatmu waktu itu?” Hanzhalah menjawab singkat, “Ya.”

Raja berkata dengan nada menyesal, “Mengapa engkau tidak datang selain di hari ini?!” Hanzhalah membalas, “Bagaimana mungkin aku bisa mengetahui rahasia perihal hari ini?”

An-Nu’man kemudian bersumpah, “Demi Allah, seandainya Qabus putraku yang muncul di hadapanku sebelummu, niscaya aku tetap tidak punya pilihan selain membunuhnya. Maka mintalah keperluanmu di dunia ini dan mintalah apa saja yang engkau inginkan, karena engkau pasti akan dibunuh.”