Kisah Kesatriaan dan Kesetiaan: Raja An-Nu’man dan Hanzhalah

 Kisah Kesatriaan dan Kesetiaan: Raja An-Nu’man dan Hanzhalah

Ilustrasi [AI]

Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya, An-Nu’man ingin membunuh Qurad lebih awal. Hal ini semata-mata agar Hanzhalah terbebas dari kewajiban dan selamat dari hukuman mati.

Ketika matahari mulai memerah dan hampir terbenam, tiba-tiba muncul sesosok tubuh berlari dari kejauhan. An-Nu’man buru-buru memerintahkan algojo untuk segera mengeksekusi Qurad sebelum sosok itu tiba.

Lagi-lagi menterinya menahan dengan berkata, “Anda tidak berhak membunuhnya sampai sosok tersebut tiba di hadapan Anda, agar Anda mengetahui siapa dia sebenarnya.” Raja pun pasrah menunggu pria itu tiba, dan ternyata sosok yang terengah-engah itu adalah Hanzhalah.

Berakhirnya Hari Kesengsaraan

Ketika An-Nu’man melihatnya secara langsung, kedatangan Hanzhalah terasa amat sangat berat di hatinya. Ia bertanya dengan suara bergetar, “Apa yang mendorongmu untuk rela kembali setelah engkau sebenarnya bisa terlepas dari hukuman mati?”

Dengan tatapan yang teguh, Hanzhalah menjawab singkat namun penuh makna, “Kesetiaan.”

Mendengar satu kata itu, hati An-Nu’man sangat tersentuh oleh kebesaran jiwa dan kejujuran Hanzhalah. Ia segera memaafkannya dan membebaskan Qurad dari segala tuntutan hukuman.

Semenjak hari yang sangat bersejarah itu, An-Nu’man sadar akan kekejamannya. Sang Raja pun menghapus tradisi pembunuhan yang tidak masuk akal tersebut untuk selama-lamanya.

Sumber: Diadaptasi secara bebas dari buku “Qashash al-‘Arab” (Kisah-kisah Bangsa Arab), Jilid Pertama, karya Muhammad Ahmad Jad al-Mawla, Cetakan Dar al-Fikr, 1979.