Kisah Kesatriaan dan Kesetiaan: Raja An-Nu’man dan Hanzhalah

 Kisah Kesatriaan dan Kesetiaan: Raja An-Nu’man dan Hanzhalah

Ilustrasi [AI]

Syarat Kepulangan dan Sang Penjamin

Mendengar vonis tersebut, Hanzhalah berkata, “Apa gunanya dunia ini bagiku setelah nyawaku tiada?” An-Nu’man menunduk dan berkata, “Sungguh, tidak ada jalan keluar dari takdir hari ini.”

Hanzhalah kemudian mengajukan permohonan terakhirnya. “Jika memang harus demikian, maka berilah aku tenggat waktu. Izinkan aku pulang untuk berwasiat dan menyiapkan keadaan keluargaku, kemudian aku berjanji akan kembali kepadamu.”

An-Nu’man memberikan syarat yang berat, “Harus ada penjamin yang memastikan kepulanganmu ke sini.” Hanzhalah pun menatap Syarik bin ‘Amr, seorang pembantu Raja yang sedang berdiri di dekatnya.

Ia lalu membacakan sebuah syair yang menyayat hati:

Wahai Syarik, wahai putra ‘Amr, adakah jalan keluar dari kematian? Wahai saudara bagi setiap orang yang tertimpa musibah, wahai saudara bagi siapa saja yang tak punya saudara. Wahai saudara An-Nu’man, bebaskanlah hari ini seorang tamu yang telah datang memohon kepadanya.

Namun sayang, Syarik menolak untuk menjadi penjamin nyawanya. Tiba-tiba, tampillah seorang pria pemberani bernama Qurad bin Ajda’ yang berseru kepada Raja, “Dia menjadi tanggunganku.”

An-Nu’man memastikan keputusannya dengan bertanya, “Apakah engkau bersungguh-sungguh mempertaruhkan nyawamu?” Pria itu menjawab, “Ya, aku yang akan menjaminnya.”

Raja pun luluh dan memerintahkan agar Hanzhalah diberi hadiah lima ratus ekor unta betina terlebih dahulu. Hanzhalah diizinkan pulang ke keluarganya dengan batas waktu tepat satu tahun penuh, terhitung sejak hari itu.

Hari Penentuan di Tahun Berikutnya

Ketika setahun telah berlalu, batas waktu tinggal tersisa satu hari saja. An-Nu’man memanggil Qurad dan berkata kepadanya, “Aku tidak melihat masa depanmu melainkan hanya akan menjadi mayat esok hari.”

Qurad membalas ucapan Raja dengan tenang melalui bait syair penyerahan diri:

Jika permulaan hari ini telah berlalu, Maka sesungguhnya hari esok bagi yang menunggunya sangatlah dekat.

Ketika pagi penentuan itu tiba, An-Nu’man menunggangi kudanya bersama pasukan bersenjata lengkap. Ia pergi ke tempat eksekusi di mana ia bertemu dengan Hanzhalah setahun sebelumnya.

Raja pun memberi perintah kepada algojo agar Qurad segera dibunuh. Namun, ketika algojo hampir saja mengayunkan pedangnya, para menteri raja mencegahnya.

Mereka mengingatkan, “Anda tidak berhak membunuhnya sampai ia menyempurnakan tenggat waktunya hingga hari ini benar-benar berakhir.” Maka Raja pun terpaksa menurunkan pedang algojo.