Muktamar XXIII Al Jam’iyatul Washliyah Fokus Perkuat Dakwah Lewat Ekonomi Umat

 Muktamar XXIII Al Jam’iyatul Washliyah Fokus Perkuat Dakwah Lewat Ekonomi Umat

Ketua Umum PB Al Jam’iyatul Washliyah KH Masyhuril Khamis (tengah) bersama panitia OC Muktamar XXIII.

Jakarta (Mediaislam.id)–Organisasi Islam Al Jam’iyatul Washliyah bersiap menggelar Muktamar ke-XXIII pada 7-10 Juli 2026 mendatang di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Forum tertinggi organisasi ini dipastikan akan membawa agenda besar, salah satunya adalah transformasi dakwah melalui penguatan ekonomi riil.

​Ketua Umum PB Al Jam’iyatul Washliyah, KH Masyhuril Khamis, menegaskan bahwa kemandirian ekonomi kini menjadi instrumen dakwah yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, pola dakwah konvensional harus mulai bergeser pada pemberdayaan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

​”Dakwah kita sekarang tidak bisa lagi sekadar dari pintu ke pintu, tapi harus masuk melalui ‘dapur’ umat. Artinya, ekonomi menjadi instrumen penting untuk membentengi akidah dan akhlak mereka,” ujar Kiai Masyhuril saat ditemui di Sekretariat PB Al Jam’iyatul Washliyah, Jakarta, Jumat (8/5/2026).

 

Kurikulum Entrepreneur dan Kemandirian

Salah satu terobosan yang akan digodok dalam Muktamar nanti adalah integrasi kurikulum kewirausahaan (entrepreneurship) di seluruh jenjang pendidikan milik Al Jam’iyatul Washliyah.

Kiai Masyhuril menilai, pembangunan pola pikir (mindset) mandiri harus dimulai sejak dini, mulai dari tingkat SD hingga SMA. ​Ia menekankan pentingnya meneladani para sahabat Rasulullah SAW yang mayoritas merupakan pengusaha sukses.

“Dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, delapan di antaranya adalah pengusaha. Narasi inilah yang harus kita masukkan ke sekolah-sekolah sebagai muatan lokal, agar lulusan kita punya mentalitas pejuang ekonomi,” jelasnya.

​Selain pendidikan, implementasi ekonomi akan diperluas melalui penguatan koperasi, Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS), hingga pembekalan aspek ekonomi bagi para dai. Program masa depan organisasi juga mencakup pengiriman mahasiswa ke desa-desa untuk menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga akidah masyarakat setempat.

​Perhelatan yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari ini diperkirakan akan menyedot perhatian 1.000 peserta dari 254 pengurus daerah di seluruh Indonesia. Panitia pun tengah menyusun skenario matang terkait kehadiran Presiden RI.

​Meski lokasi utama berada di Asrama Haji, panitia menyiapkan rencana agar pembukaan dapat dihadiri langsung oleh Presiden, baik di lokasi acara maupun melalui audiensi khusus di Istana Negara.

“Harapan kita, Presiden bisa hadir langsung memberikan arahan, mengingat pentingnya sinergi antara ulama dan pemerintah dalam membangun ketahanan ekonomi umat,” pungkasnya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − one =