Wakil Rektor UIKA Sampaikan Konsep Maslahat Based Leadership
Hambari PhD
Bogor (Mediaislam.id) – Mengawali Tahun Baru 2026, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Dakwah Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Hambari, M.A., Ph.D., menyampaikan pesan penting tentang kepemimpinan Islam dalam khutbah Jumat di Masjid Ibn Khaldun, Jumat (2/1/2026).
Dalam khutbahnya, Hambari menekankan pentingnya konsep “Kepemimpinan Berbasis Maslahat” “Maslahat Based Leadership (MBL)” sebagai fondasi kepemimpinan di berbagai bidang kehidupan.
Dalam suasana khidmat ibadah Jumat awal tahun, Hambari menjelaskan bahwa Islam menempatkan kepemimpinan sebagai amanah besar yang harus membawa maslahat (kebaikan dan manfaat) serta mencegah mafsadat (kerusakan dan bahaya). Menurutnya, kepemimpinan tidak sekadar soal kekuasaan atau jabatan, tetapi tentang tanggung jawab moral dan spiritual kepada Allah SWT dan kepada manusia.
“Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin wajib memastikan kebijakan dan tindakannya menghadirkan kebaikan seluas-luasnya dan menutup pintu kerusakan sekecil apa pun. Inilah esensi dari Maslahat Based Leadership,” ujar Hambari dalam khutbahnya.
Ia memaparkan sejumlah prinsip dasar maslahat dalam kepemimpinan. Pertama, pemimpin harus menjunjung tinggi nilai kejujuran, amanah, dan profesionalisme. Menurutnya, tanpa integritas, kepemimpinan akan kehilangan nilai, kehormatan, legitimasi dan kepercayaan publik.
Kedua, kepemimpinan berbasis maslahat harus mampu mendatangkan manfaat (jalb al-mashalih). Pemimpin dituntut aktif bergerak menciptakan kesejahteraan, keamanan, ketenangan, kedamaian, keadilan, serta mendorong kemajuan umat dan bangsa. “Pemimpin yang baik bukan hanya mencegah masalah, tetapi juga menghadirkan solusi dan harapan,” tegasnya.
Prinsip ketiga adalah mencegah kerusakan (dar’u al-mafasid). Hambari menekankan bahwa pemimpin harus berani mencegah kemungkaran (nahi munkar), selain itu setiap kebijakan harus dikaji secara matang, dengan mempertimbangkan risiko agar tidak menimbulkan dampak negatif, konflik sosial, ketidakadilan atau kezaliman. Sikap hati-hati dan bijaksana menjadi kunci dalam mengambil keputusan strategis.
Selain itu, ia menegaskan bahwa Maslahat Based Leadership harus berorientasi pada umat dan lingkungan. Kepemimpinan tidak boleh bersifat egoistik atau sektoral, melainkan berpihak pada kemaslahatan bersama serta menjaga keberlanjutan kelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari amanah Allah SWT.
Khutbah Jumat ini menjadi refleksi awal tahun bagi jamaah untuk menata niat dan peran masing-masing, baik sebagai pemimpin formal maupun pemimpin dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Hambari berharap konsep Maslahat Based Leadership dapat menjadi inspirasi dalam membangun kepemimpinan yang adil, beradab, dan membawa kebaikan bagi semua.
“Setiap dari kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Mari jadikan tahun baru ini sebagai momentum menghadirkan maslahat di mana pun kita berada,” pungkasnya. [ ]
