Tiga Dimensi Maulid Nabi

 Tiga Dimensi Maulid Nabi

Kaligrafi “Muhammad Saw” di Masjid Hagia Sophia, Istanbul.

Sungguh, rasa syukur sedemikian dalam ke haribaan Ilahi Rabbi atas karunia besar yakni iman dan islam yang bersemi dalam kalbu. Lalu, tumbuh mekar dalam sikap dan perilaku keseharian yang menghiasi pribadi muslim sejati. Hidayah iman dan islam tidak didapatkan oleh setiap orang, kecuali hamba-hamba pilihan yang tekun meraihnya.

Bahkan, seorang yang lahir sebagai muslim pun, belum tentu mendapat hidayah untuk menghantarkan mendekat kepada Sang Pemberi Hidayah, Allah SWT. “Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am [6]: 125).

Dalam Tafsir Ringkas Kementerian Agama dijelaskan, ”Tugas para nabi adalah menyampaikan pesan-pesan Allah kepada masyarakat. Di antara masyarakat itu ada yang mendapatkan hidayah dan ada pula yang memilih kekufuran. Hidayah dan kekufuran adalah hak Allah sebagaimana juga risalah. Bedanya kalau hidayah itu harus diminta, sementara risalah adalah anugerah dan pemberian Allah semata kepada seseorang yang dipilih-Nya. Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah atau petunjuk, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam, yaitu pintu hatinya terbuka untuk menerima Islam atau cahaya yang datang dari Allah yang dengannya seseorang bisa melihat kebenaran, kemudian mengikuti kebenaran itu dengan memeluk Islam”.

Seorang mukmin, bersyukur atas karunia iman dan islam, namun lebih gembira atas kehadiran manusia pilihan yang menjadi washilah hidayah itu sampai kepada manusia. Kelahiran sosok pribadi mulia itulah yang sebenarnya membuat setiap mukmin bersyukur dan menjadikannya sebagai uswah hasanah (model terbaik). Allah SWT. berfirman, ”Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah” (QS. Al-Ahzab[33]:21).

Bertepatan dengan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1448 H, semestinya digunakan untuk mengenal lebih jauh dan dalam akan sosok, akhlak, sepak terjang perjuangan dakwahnya mencerahkan umat manusia dan alam semesta. Tentu, bukan sekedar peringatan seremonial, akan tetapi memaknai Peringatan Maulid Nabi secara substantif dan kontemplatif. Setidaknya, kegiatan tersebut dapat menguatkankan pengetahuan, pemahaman dan pengamalan dalam tiga dimensi yakni:

Pertama, Sirah (sejarah kehidupan Nabi). Sejatinya, sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. bukan hanya dimulai sejak kelahirannya di Tanah Suci Mekkah. Bahkan, sebelum Nabi Adam AS. di utus, nama beliau sudah disebut yang dalam kajian tasawuf dikenal dengan Nur Muhammad. Pakar Tasawauf, Buya Dr. Arrazy Hasyim menjelaskan bahwa jika Ahmad (Ruhullah) menjadi sumber ruh yang ditiupkan kepada setiap insan (aspek batin), maka Nur Muhammad adalah sumber penciptaan alam semesta pada empat anasir, yakni tanah, air, angin dan darah (aspek dzahir). Sebelum alam semesta diciptakan, Nur Muhammad telah ada lebih dahulu dan karenanya pula alam ini diadakan. Ketika Nabi Ibrahim AS. dan Nabi Ismail AS. usai meninggikan pondasi Ka’bah, mereka berdoa agar kelak diutus seorang rasul dari keturunannya (QS. Al-Baqarah [2]:129). Kemuduain, Nabi Isa AS. gembira akan datangnya Nabi akhir zaman bernama Ahmad (QS. Ash-Shaff [61]:6).

Kisah perjalanan hidup beliau menakjubkan dari berbagai sisi mana pun. Menelusuri kehidupan Nabi SAW. tidak pernah kering dari hikmah dan pencerahan melalui buku-buku yang terbit. Dr. Muhammad Husein Haikal menulis ”Sejarah Hidup Muhammad”, mulai dari pra kenabian hingga pasca kematian. Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, ”Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad”, Prof. M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW., Martin Lings, Muhammad Rasulullah, dan dalam bentuk syair seperti Al-Barzanji oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji.

Kedua, Sunnah (sikap dan perilaku hidup Nabi). Mencintai Nabi SAW. tidak cukup mengetahui sirah yang inspiratif, akan tetapi harus memahami dan mengamalkan sunnah. Sunnah Nabi itu ada tiga aspek, yakni qauliyah (ucapan), fi’liyah (perbuatan) dan taqririyah (ketetapan). Setiap kata, sikap dan tindakan beliau, baik mengerjakan amal kebajikan maupun meninggalkan keburukan adalah sunnah yang mesti dijadikan teladan. Ketiga aspek tersebut meliputi akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Beliau menjadi uswah dan qudwah (panutan) dari segala sisi kehidupan, baik sebagai suami, ayah, tetangga, pemimpin negara, panglima perang, pebisnis maunpun lainnya. Setiap gerak langkah dan ucapan beliau mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali adalah akhlak mulia yang mengagumkan.

Buku yang ditulis Imam At-Tirmidzi, Asy-Syamaail al-Muhammadiyah (Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW.) sangat lengkap tentang sosok dan kebiasaan Nabi dalam keseharian. Fadlan Al-Ikhwani menulis buku ”Dahsyatnya 7 Sunnah” menyebutkan tujuh sunnah Nabi SAW. yang mesti melekat pada diri muslim yakni menjaga wudhu’ tahajjud & witir, shalat berjamaah, tadabbur al-Quran, shalat dhuha, puasa senin-kamis dan sedekah. Jika kita tidak mampu menjaga semua, setidaknya satu atau dua ibadah tersebut melekat dalam diri kita.

Ketiga, Dakwah (gerakan membangun peradaban). Jika sudah merenungi sirah dan mengamalkan sunnahnya, maka kewajiban kita meneruskan dakwahnya. Sejak beliau diutus (40 tahun) sampai wafat (63 tahun) atau selama 23 tahun, adalah masa dakwah yang penuh tantangan, perjuangan dan pengorbanan. Gerakan dakwah yang diawali sembunyi (tiga tahun), lalu terang-terangan dengan resiko yang sangat berat seperti siksaan, boikot, pengusiran dan hijrah dua kali, hingga Fathul Makkah. Keberhasilan dakwah bukan hanya pada masanya, akan tetapi tampilnya kader da’i yang tangguh ke perjuru dunia yakni para shahabat, tabi’ii, dan generasi seterusnya. Beliau berpesan,”Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. Ahmad).

Buku-buku yang ditulis oleh pakar sejarah baik orientalis maupun kalangan umat Islam, menggambarkan betapa dahsyat dakwah Nabi SAW. hingga tersebar ke seluruh dunia. Semisal Thomas W. Arnold dinilai objektif menulis “The Preaching of Islam” yang mengurai gerakan dakwah Nabi ke berbagai penjuru dunia hingga ke Indonesia. Sebuah buku kontroversial ditulis Michael H. Hart, “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”, menempatkan Nabi Muhammad SAW. pada urutan pertama. Beliau mengatakan, “Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi”.

Akhirnya, momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. yang datang setiap tahun, bukan soal waktu atau tanggal. Akan tetapi, substansinya untuk menyerap cahaya iman yang menyinari alam semesta dan bagaimana umat Islam mengimplementasikan dalam kehidupan. Pun, bukan hanya seremonial kegembiraan sesaat tanpa makna, tetapi saat yang tepat menanamkan dan menumubuhkan rasa cinta kepadanya. Kelak, setiap orang yang mencintai dan shalawat kepadanya akan mendapat syafaat uzma. Allahu a’lam bish-shawab.

Hasan Basri Tanjung
Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 3 =