Terpilih sebagai Ketum MUI Periode 2025-2030, Begini Pidato Perdana KH Anwar Iskandar
Pidato perdana Ketum MUI Periode 2025-2030 KH Anwar Iskandar.
“Ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh ulama tapi tidak bisa dilakukan oleh pemerintah, ada yang bisa dilakukan oleh pemerintah tapi tidak bisa dilakukan oleh ulama. Oleh karena itu, sinergitas menjadi kewajiban kita semua,”pungkasnya.
Kiai Anwar menyebut korupsi, judi online, serta narkotika dan psikotropika sebagai ancaman utama.
“Memberantas korupsi, memberantas judi online, memberantas narkotika dan psikotropika adalah nahi munkar yang hanya mampu dilakukan oleh pemerintah karena dia punya alat, punya polisi, punya kejaksaan, punya KPK,” tegasnya.
Menguatkan pernyataan itu, KH Anwar Iskandar mengingatkan prinsip hadits Nabi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah ke-34:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” [HR Muslim]
Kiai Anwar juga menyinggung kemungkaran moral seperti perzinaan dan LGBT sebagai bagian dari masalah besar yang perlu dicegah bersama.
Kiai Anwar menegaskan, meski pemerintah memiliki peran utama dalam pencegahan kemungkaran, ulama tetap memiliki kewajiban untuk menasihati dan membimbing umat secara santun.
Kiai Anwar menyampaikan bahwa MUI akan berdiri bersama pemerintah selama kebijakan yang dijalankan menyentuh kemaslahatan masyarakat dan pemberantasan kemungkaran struktural.
“Program menyejahterakan rakyat itu islami. Program memberantas korupsi itu juga islami. Kalau sudah begitu, kita tidak ragu untuk bersama pemerintah,” katanya.
Meski demikian, Kiai Anwar mengingatkan agar fungsi nasihat tetap dijalankan dengan santun. “Kalau kita melakukan nahi munkar dengan cara yang tidak baik, itu membuat munkar baru,” tegasnya.
Selain isu besar kemasyarakatan, Kiai Anwar juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan ruang digital yang makin ekstrem. Menurutnya, media digital harus diarahkan sebagai medium dakwah yang menuntun umat.
“Era digital ini banyak disalahgunakan. Mari kita gunakan digital untuk dakwah yang baik dakwah riwayat digital untuk membimbing umat,” katanya.
Di hadapan para ulama, Kiai Anwar menegaskan bahwa dirinya bukan sosok yang paling unggul. Ia meminta seluruh pengurus untuk saling menguatkan dan tidak ragu menegur bila dirinya keliru.
“Apabila saya telah menjalani periode ini, saya mohon dengan hormat agar dapat dibantu, dinasihati, dan dibimbing. Apabila salah, jangan ragu untuk menegur saya, karena saya adalah manusia biasa,”ungkapnya.
Kiai Anwar juga menekankan pentingnya persatuan dalam membawa MUI lima tahun ke depan. “Seberat apa pun tugas, jika kita bergandeng tangan, insyaallah akan menjadi ringan. Namun, seringan apa pun tugas, jika kita terpecah belah, akan menjadi beban yang berat,” tegasnya.
Menutup pidato sekaligus menandai berakhirnya Munas XI, Kiai Anwar mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18, “وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ” “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” [mui.or.id]
