Sheikh Ikrima Sabri: Masjidil Aqsha Masuk Fase Berbahaya

 Sheikh Ikrima Sabri: Masjidil Aqsha Masuk Fase Berbahaya

Komplek Masjidil Aqsa

Yerusalem (Mediaislam.id) – Ketua Dewan Islam Tertinggi di Yerusalem Sheikh Ikrima Sabri mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi Kota Suci yang kini memasuki “fase paling berbahaya”. Ulama Palestina itu menyoroti agresivitas pemerintah ekstremis Israel yang kian terang-terangan menargetkan penghancuran dan pembagian wilayah Masjid Al-Aqsha.

Dilansir Pusat Informasi Palestina, Sheikh Sabri menggambarkan Yerusalem tengah melewati masa-masa paling menyakitkan. Kebijakan radikal otoritas pendudukan tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga mematikan sendi-sendi kehidupan warga Palestina.

“Kami Dibiarkan Sendirian”

Dengan nada getir, Sheikh Sabri menekankan aspek kemanusiaan yang memilukan: warga Yerusalem kini berjuang tanpa perlindungan internasional.

“Penduduk kota ini membayar harga yang sangat mahal untuk membela Masjid Al-Aqsa. Mereka dibiarkan bertarung sendirian tanpa dukungan atau bantuan, di tengah keheningan dunia yang memekakkan telinga,” ujar Sheikh Sabri.

Ia memaparkan bahwa penderitaan warga Yerusalem bersifat sistematis, meliputi:

– Pelecehan Keamanan: Tekanan fisik dan psikis yang memburuk setiap harinya.
– Teror Pemukim: Kelompok ekstremis Yahudi kini memiliki pengaruh langsung dalam pemerintahan, memicu aksi kekerasan yang kian brutal terhadap warga sipil.
– Penghancuran Rumah: Kebijakan penggusuran paksa dan penghancuran tempat tinggal meningkat signifikan guna mempercepat agenda Yahudisasi.

Al-Aqsha di Ambang Pembagian

Salah satu poin paling krusial yang disoroti adalah upaya sistematis untuk mengubah status quo Masjid Al-Aqsha. Sheikh Sabri mengungkapkan bahwa kelompok-kelompok ekstremis kini secara terbuka menghasut pembunuhan dan penghancuran, serta berupaya membagi wilayah masjid untuk ritual non-Muslim secara paksa.

“Pelanggaran ini terjadi di depan mata dunia. Apa yang menimpa Yerusalem adalah bagian dari perang terbuka untuk menghapus eksistensi bangsa Palestina dari tanah air mereka sendiri,” tegasnya.

Statistik Kelam di Tepi Barat dan Gaza

Meski perjanjian gencatan senjata telah diteken pada 10 Oktober tahun lalu pasca-perang panjang yang bermula sejak 2013, situasi di Tepi Barat dan Yerusalem justru kian membara. Kekerasan oleh tentara dan pemukim ilegal Israel telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Data mencatat dampak mengerikan dari agresi ini:

– Korban Jiwa: Lebih dari 1.000 warga Palestina gugur di Tepi Barat.
– Korban Luka: Sekitar 11.000 orang mengalami cedera.
– Penangkapan Massal: Lebih dari 21.000 warga ditahan sejak dimulainya operasi di Gaza.

Keteguhan di Balik Reruntuhan

Menutup pernyataannya, Sheikh Sabri menegaskan bahwa pemandangan kehancuran dan pengungsian—meski telah menjadi konsumsi sehari-hari bagi rakyat Palestina—tidak akan pernah mematahkan semangat perlawanan mereka.

“Rakyat kami akan tetap teguh dan tabah hingga Tuhan mewarisi bumi ini beserta isinya,” pungkasnya, mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa meski secara fisik tertindas, mentalitas dan iman warga Yerusalem tetap tak tergoyahkan. [ ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 10 =