Sayonara Ramadan, Tetap Istikamah dalam Ketaatan

 Sayonara Ramadan, Tetap Istikamah dalam Ketaatan

Oleh:

Nina Marlina, A.Md | Aktivis Muslimah

 

Alhamdulillah Sob, Allah Swt masih berkenan memberi kita hidup hingga kita bisa sampai di akhir ramadan dan kita pun bisa merasakan sukacitanya beridul fitri. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Akhirnya ramadan bulan yang mulia pun berlalu nyaris tak terasa. Baru kemarin kita shaum, tarawih, tadarus qur’an, tapi tau-tau udah lebaran aja. Apalagi kaum hawa yang bocor shaumnya berhari-hari karena haid, pastinya makin gak berasa banget ya ramadan itu. Hihi…

Ramadan Sudah Berlalu
Nah btw, gimana sih reaksimu setelah ditinggal ramadan? Apakah sedih atau malah happy? Bagi yang merasakan sedih, wajar banget ya. Soalnya pasti kita ngerasain hampa, kayak ada yang hilang gitu dari hidup kita. Biasanya tiap hari kita sahur, tarawih, tadarus qur’an. Tapi sekarang harus kembali lagi ke rutinitas seperti biasa. Terus, kalo yang happy emang ada? Bisa jadi ada sob, yaitu bagi mereka yang nganggap ramadan itu sebagai belenggu. Soalnya menurut mereka puasa itu bikin gak produktif karena bikin lapar, lemes, ngantuk dan alasan lainnya. Astaghfirullah… jangan sampai deh kita nganggap ramadan ini sebagai beban ya sob. Oh iya, terus ada juga lho yang sama parahnya. Siapa? Mereka yang cuek-cuek aja saat ramadan pergi. Bisa jadi mereka gak punya target atau bahkan gak peduli amalannya selama ramadan bernilai pahala atau enggak. Huft…

Padahal Nabi saw. pernah bersabda, “Kalau hamba-hamba Allah Swt.mengetahui balasan dan keutamaan ramadan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi ramadan”. (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Terus gimana sih perasaan sahabat Nabi saat ditinggal bulan suci Ramadan? Sob, ternyata para sahabat Nabi merasakan sedih, bahkan sampai menangis ketika ramadan berlalu. Kenapa? Karena mereka takut kalau amalan Ramadan mereka nggak diterima oleh Allah Swt. Bahkan, mereka juga berdoa kepada Allah Swt. selama enam bulan setelah Ramadan agar ibadahnya diterima. Nah, ini juga patut untuk kita contoh sob. Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka bisa mencapai Ramadan, dan mereka berdoa enam bulan setelahnya agar amalan mereka diterima.”

Habis Ramadan Jangan Tinggalkan Ketaatan

Ramadan emang bisa bikin orang berubah 180 derajat. Ada remaja yang biasanya males ke masjid, tiba-tiba jadi rajin setiap hari shalat berjamaah ke masjid termasuk tarawih. Ada yang biasanya rajin scroll TikTok atau media sosial berjam-jam tiba-tiba jadi sibuk tadarusan. Yang paling terlihat juga dari para artis atau influencer. Mereka juga pada ikutan berubah lho pas ramadan.

Eh tapi sayangnya, kelar ramadan, kelar juga ketaatan. Amalan di bulan ramadan gak lagi berbekas. Astaghfirullah… kok bisa gitu sih? Ya, soalnya berat. Serasa sendiri aja yang taat, sementara yang lain kembali lagi ke setelan awal. Ditambah lingkungan pun gak support agar individu bisa tetap taat. Misalnya media sosial kembali lagi dengan banyaknya konten-konten unfaedah. Bukan lagi tentang semangat ibadah atau tausyiah. Padahal ya sob, tanda ramadan kita sukses dan diterima oleh Allah Swt adalah kalau kebiasaan kita seusai Ramadan itu sama seperti kebiasaan saat Ramadan. Nah, catat ya itu…

Terus, gimana dong caranya biar kita tetap istikamah setelah ramadan? Pertama, cari lingkungan yang baik. Misalnya berteman dengan orang yang sama-sama punya niat untuk istikamah dalam ketaatan. Bisa secara offline atau online yang saat ini sangat mudah diakses oleh kaum remaja.

Kedua, lakukan amal kecil tapi rutin. Misalnya, tilawah Quran tiap hari meski hanya 10 menit, menghafal ayat Quran sehari 1 ayat. Soalnya salah satu amalan yang Allah cintai adalah amalan yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit.

Ketiga, banyak dzikir dan doa. Sudah selayaknya kita memohon kepada Allah Swt. agar diberikan keteguhan dalam ketaatan. Bahkan Rasulullah saw. sudah mencontohkan dan mengajarkan salah satu doanya, yaitu “Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.” Artinya, “Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Keempat, selalu ingat akhirat. Dengan mengingat kematian dan akhirat, maka kita akan selalu berusaha untuk taat. Amalan kita di dunia akan menjadi penentu kehidupan di akhirat nanti yang bersifat abadi.

Kelima, ngaji. Selain merupakan sebuah kewajiban, mengkaji islam memberikan banyak manfaat untuk kita. Diantaranya menguatkan keimanan, menambah pemahaman keislaman dan memperbanyak sahabat taat yang dapat mengingatkan kita dalam ketaatan.

Makna Hakiki Idul Fitri
Sob, selama ini banyak dari kita yang terjebak dengan euforia lebaran. Makna Idul Fitri hanya sekadar seremoni.

Misalnya pas lebaran harus membeli baju baru, menyediakan berbagai macam makanan hingga merepotkan diri sendiri karena sebenarnya tak mampu secara finansial. Padahal buah dari kita berpuasa selama bulan ramadan adalah ketakwaan. Maka sejatinya, makna idul fitri adalah bahwa seusai ramadan, ketakwannya kepada Allah bertambah. Ia selalu termotivasi untuk lebih baik dari sebelumnya, semangatnya untuk beribadah pun tidak mengendur. Ini persis banget kayak bunyi pepatah Arab, “Laisal ied liman labisal jadid, Innamal ied liman tha’atuhu yazid” . Idul fitri bukan untuk orang yang berpakaian baru, sesungguhnya idul fitri adalah untuk orang yang ketaatannya (kepada Allah dan Rasul) bertambah.

Terus, apa sih makna takwa itu? Sebagaimana yang sudah kita pahami bersama kalo takwa itu adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Seorang yang bertakwa pun gak akan mau dilihat oleh Allah di tempat yang dilarang-Nya, dan gak mau kalo gak dilihat Allah di tempat yang diperintahkan-Nya. Selain itu, ternyata ketakwaan itu gak cukup hanya dimiliki oleh individu saja. Tapi, ketakwaan individu harus dibarengi oleh ketakwaan umat dan support negara. Kenapa? Tujuannya agar suasana keimanan dan ketakwaan terus terjaga sehingga individu muslim pun bisa terus melakukan ketaatan terhindar dari kemaksiatan. Gitu sob…

So, meskipun ramadan sudah berlalu. Jangan biarkan imanmu layu. Meski sudah ditinggalkan ramadan, yuk tetap istikamah dalam ketaatan.
Wallahu a’lam bishshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =