Sayid Oethman Mufti Betawi: Penjaga Akidah di Tengah Pusaran Dilema Kolonial

 Sayid Oethman Mufti Betawi: Penjaga Akidah di Tengah Pusaran Dilema Kolonial

Sayyid Utsman, Mufti Betawi.

Warisan Kitab-Kitab Monumental

Karya beliau mencakup seluruh sendi kehidupan seorang Muslim. Berikut adalah daftar khazanah intelektual yang beliau tinggalkan:

Bidang Ilmu Judul Kitab / Risalah
Tauhid (Akidah) Sifat Dua Puluh, Al-Aqd al-Farid fi Ba’di Masa’il al-Tauhid, Risalah Syahadatain
Adab (Etika) Adabul Insan (Kitab legendaris etika Betawi), Thariqul Adab, Iqodzul Himam
Fikih & Ibadah Maslak al-Akhyar, Manasik Haji, Bab al-Minan (Zakat), I’anat al-Mustarsyidin
Sirah (Sejarah) Az-Zahrul Basim (Sejarah Nabi Saw), Kisah Mi’raj Nabi
Bahasa & Alat Kamus Kecil (Arab-Melayu), Ilmu Falak (Astronomi Islam)
Hukum Al-Qawanin al-Syar’iyyah (Panduan bagi para Qadhi/Penghulu)
Zikir & Doa Majmu’ al-Ad’iyah, Munjiyat al-Anam

Dilema Mufti: Ijtihad untuk Kemaslahatan Umat

Kedekatan beliau dengan pemerintah Hindia Belanda dan hubungannya dengan Snouck Hurgronje sering kali dilihat secara satu dimensi. Namun, jika kita menyelami buku Politik Islam Hindia Belanda karya Aqib Suminto (1985), kita akan menemukan sisi kemanusiaan dan tanggung jawab berat yang dipikul Sayid Oethman.

Membela Umat di Tengah Posisi “Serba Salah”

Aqib Suminto menggambarkan posisi Sayid Oethman sebagai posisi yang “serba salah”. Beliau berdiri di antara dua kutub: tuntutan hukum Islam untuk membela umat dan posisinya sebagai penasihat resmi (Mufti) di Batavia.

Namun, dari sudut pandang yang lebih positif, posisi ini adalah bentuk ijtihad politik. Beliau menyadari bahwa:

  1. Menghindari Pertumpahan Darah. Beliau mengkritik pemberontakan fisik yang tidak seimbang karena tidak ingin melihat umat Islam dibantai sia-sia oleh militer kolonial yang jauh lebih kuat. Bagi beliau, menjaga nyawa umat (Hifdzun Nafs) adalah prioritas syariat.
  2. Menjaga Marwah Ibadah. Dengan posisi sebagai penasihat, beliau memiliki celah untuk memastikan hak-hak ibadah umat (salat, haji, zakat) tetap dijamin oleh pemerintah Hindia Belanda tanpa gangguan.
  3. Diplomasi Dakwah. Penghargaan Officer of the Order of Orange-Nassau yang diterimanya menunjukkan betapa beliau dihormati, yang mana posisi ini beliau gunakan untuk menjadi jembatan agar kepentingan umat Islam tidak diabaikan oleh penjajah. Beliau memilih jalur “jalan asyar” demi eksistensi dakwah dan keselamatan jiwa asyarakat Batavia.

Silsilah dan Keberlanjutan Dakwah di Masa Kini

Sayid Oethman bukan hanya mewariskan kitab, tapi juga generasi pejuang. Keturunan beliau terus berkontribusi dalam pergerakan Islam di Indonesia.

Salah satu fakta yang membanggakan bagi keluarga besar beliau adalah hubungan dengan tokoh pejuang kontemporer. Istri pertama Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Syihab, yakni almarhumah Syarifah Fadhlun binti Fadhil bin Yahya (Ummu Fadhl), adalah keturunan langsung dari Sayid Oethman bin Yahya.

Syarifah Fadhlun merupakan cicit (generasi keempat) dari sang Mufti Betawi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat pembelaan agama yang dimiliki Sayid Oethman tetap mengalir kuat dalam dzurriyah (keturunan) beliau, yang hingga kini masih menjadi pilar perjuangan umat di Indonesia.

Tinta yang Tak Pernah Kering

Sayid Oethman bin Yahya adalah teladan tentang bagaimana ilmu bisa menjadi pelindung di masa-masa sulit. Meskipun posisi politiknya sering menjadi perdebatan, ijtihad beliau untuk menyelamatkan akidah umat melalui literasi massal adalah prestasi yang tak tertandingi.

Hingga hari ini, setiap kali seorang Muslim di Jakarta membaca kitab Sifat Dua Puluh atau mengajarkan Adabul Insan kepada anaknya, di sanalah pahala jariyah Sayid Oethman terus mengalir. Beliau adalah guru, pelindung, dan mujahid pena yang telah mengokohkan fondasi keislaman di tanah Betawi. [MSR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × one =