Sayid Oethman Mufti Betawi: Penjaga Akidah di Tengah Pusaran Dilema Kolonial
Sayyid Utsman, Mufti Betawi.
DALAM sejarah emas dakwah Islam di Nusantara, nama Sayyid Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya (1822–1913) bersinar sebagai sosok pembaharu yang berjuang lewat mata pena.
Beliau bukan sekadar ulama, melainkan benteng pertahanan akidah bagi masyarakat Batavia di tengah arus perubahan zaman kolonial yang penuh tantangan.
Sebagai “Mufti Batavia”, Sayid Oethman mendedikasikan hidupnya untuk memastikan cahaya Islam tetap murni, mudah dipahami, dan teraplikasi dalam adab keseharian umat.
Nasab Mulia dan Gemblengan Intelektual
Sayid Oethman lahir di Pekojan, Batavia, pada 12 Rabiul Awal 1238 H (1822 M). Beliau lahir dari perpaduan dua tradisi besar: kemuliaan nasab Hadramaut dan ketajaman intelektual Mesir. Sayid Oethman meninggal dunia pada 18 Januari 1914 dengan masih menjabat sebagai Adviseur Honorair Urusan Arab.
Ayahnya, Sayyid Ali bin Muhammad bin Yahya, adalah sosok yang sangat dihormati. Namun, pengaruh besar dalam pembentukan kedalaman ilmunya datang dari kakek dari pihak ibu, Syekh Abdurrahman al-Misri.
Kakeknya adalah ulama besar asal Mesir, pakar ilmu falak dan matematika, yang mengajarkan Sayid Oethman arti ketelitian dan kedisiplinan dalam berpikir.
Dahaga akan ilmu membawanya mengembara ke pusat-pusat peradaban Islam. Beliau berguru di Hadramaut, Mekkah, Madinah, hingga Istanbul. Salah satu guru utamanya adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Mekkah yang sangat masyhur.
Dari perjalanan inilah, beliau membawa pulang “permata” ilmu untuk menerangi tanah kelahirannya, Batavia.
Revolusi Dakwah lewat Cetak Batu
Kembali ke Batavia pada 1862, Sayid Oethman melihat bahwa cara terbaik menjaga akidah umat adalah melalui literasi. Beliau menjadi pionir dengan mendirikan percetakan litografi (cetak batu) mandiri di Petamburan.
Beliau menulis lebih dari 100 risalah dalam bahasa Arab-Melayu (Pegon), sebuah langkah brilian agar ilmu agama tak lagi eksklusif bagi kaum elite, tapi bisa diakses oleh masyarakat awam.
