PM Malaysia: Perjanjian Tanpa Hak Penuh bagi Palestina Tidak Akan Pernah Berkelanjutan
PM Malaysia Datuk Anwar Ibrahim di Kampus ANU Australia. [foto: Bernama]
Kuala Lumpur (Mediaislam.id) – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kembali menegaskan sikap tegas dan tanpa kompromi negaranya terkait isu Palestina. Ia menyatakan bahwa perjanjian apa pun yang tidak menjamin hak-hak penuh rakyat Palestina “tidak akan pernah berkelanjutan”, di tengah meningkatnya kecaman global atas agresi Israel yang terus merenggut ribuan nyawa warga sipil.
Dilansir Pusat Informasi Palestina, Jumat (21/11) Anwar menegaskan bahwa masyarakat internasional harus mengambil posisi jelas dan jujur mengenai upaya-upaya yang menargetkan Palestina. Ia menekankan bahwa mengakhiri agresi Israel dan menghentikan aktivitas permukiman di Tepi Barat adalah dua syarat mendasar menuju penyelesaian yang adil dan langgeng.
Menyampaikan Sikap Langsung kepada Presiden AS
Anwar mengungkapkan bahwa ia menyampaikan langsung posisi Malaysia tersebut kepada Presiden AS Donald Trump, menurut laporan Al Jazeera. Ia menegaskan bahwa Malaysia berpegang teguh pada prinsip bahwa negara Palestina merdeka dengan perbatasan 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati.
Genosida Gaza dan Sikap Dunia
Sejak 7 Oktober 2023, Israel dengan dukungan Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa melakukan apa yang oleh banyak pihak disebut sebagai kampanye genosida terhadap warga Gaza. Serangan tanpa henti, blokade total, penghancuran sistematis, hingga kelaparan massal terus mengabaikan seruan global dan perintah Mahkamah Internasional untuk menghentikan operasi militer.
Serangan tersebut telah mengakibatkan lebih dari 239.000 warga Palestina tewas atau terluka, sebagian besar anak-anak dan perempuan. Lebih dari 11.000 orang masih hilang, sementara ratusan ribu lainnya hidup sebagai pengungsi, menghadapi kelaparan dan penyakit yang merenggut banyak nyawa—kebanyakan dari mereka anak-anak.
Luka yang Tak Sembuh dari Gaza
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka menggambarkan keluarga-keluarga yang hancur, anak-anak yang kehilangan orang tua, warga sipil yang bertahan di bawah puing-puing rumah mereka, serta jutaan jiwa yang menunggu dunia untuk bersuara lebih tegas. Seruan Anwar menjadi pengingat bahwa dunia tidak bisa terus menutup mata terhadap penderitaan yang berlangsung di Gaza. [ ]
