Peradaban Islam di Spanyol
Istana Alhambra di Granada, Spanyol.
BERIKUT adalah petikan perkataan Blasco Ibáñez, seorang orientalis Spanyol abad ke-20:
Spanyol menyambut baik kedatangan orang-orang Muslim yang datang dari benua Afrika tersebut, bahkan kota-kota menyerahkan kepemimpinannya tanpa perlawanan maupun permusuhan.
Tatkala sekelompok orang Arab mendekati suatu kota, pintu-pintu gerbang langsung dibukakan dan mereka disambut dengan kehangatan. Penaklukan ini bukanlah sebuah pemaksaan yang mengandalkan intimidasi senjata, melainkan sebuah peradaban baru yang membentangkan pengaruhnya secara luas pada seluruh fasilitas kehidupan.
Peristiwa tersebut merupakan ekspedisi modernisasi, bukan sebuah ekspedisi pembunuhan ataupun perusakan. Para pengusung peradaban itu pun tidak pernah sekalipun menanggalkan nilai luhur kebebasan berkeyakinan yang menjadi fondasi keagungan suatu bangsa.
Umat Islam di kota-kota yang mereka kuasai menerima keberadaan gereja-gereja Nasrani dan sinagog-sinagog Yahudi. Masjid tidak pernah merasa terancam oleh tempat-tempat ibadah agama terdahulu, melainkan mengakui hak-haknya dan hidup berdampingan secara dalam kedamaian tanpa rasa dengki atau ambisi untuk mendominasi.
Atas dasar toleransi ini, tumbuhlah salah satu peradaban paling indah dan paling kaya pada Abad Pertengahan antara abad ke-8 hingga abad ke-15 Masehi. Peradaban tersebut berhasil membawa kemajuan yang sangat pesat bagi negara.
Pada masa ketika bangsa-bangsa utara menjadi korban fitnah agama dan pertempuran barbar serta hidup layaknya suku liar di negeri mereka yang terbelakang, penduduk Spanyol justru bertambah hingga melampaui tiga puluh juta jiwa. Berbagai kelompok masyarakat mulai dari kaum Nasrani, Muslim, penduduk asli semenanjung, warga Syam, Mesir, Magribi, hingga kaum Yahudi Spanyol dan Timur hidup bersama di Semenanjung Andalusia.
Berkat interaksi yang dinamis antar-elemen masyarakat ini, seluruh pemikiran, adat istiadat, penemuan ilmiah, pengetahuan, seni, industri, dan inovasi modern dapat berkembang. Bersama para pendatang tersebut, komoditas dari Timur seperti sutra, katun, kopi, kertas, lemon, jeruk, delima, dan gula mulai berdatangan, begitu pula dengan karpet, tekstil, dan bubuk mesiu.
Kita pun mengadopsi sistem hitung desimal, aljabar, kimia, kedokteran, dan astronomi dari mereka. Setiap kali ada orang Eropa yang ingin menuntut ilmu, mereka akan pergi ke universitas-universitas Arab di Spanyol.
Para raja dan pangeran Eropa pun merasa tenang ketika mereka beruntung mendapatkan tabib asal Spanyol, berapa pun biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Di tengah masyarakat, muncul kelas menengah yang melahirkan berbagai inovasi industri secara kreatif dan membangun kekuatan angkatan laut terbesar pada masanya di sepanjang pesisir pantai.
Produk-produk Spanyol pun laku keras di seluruh pelabuhan Eropa. Di negara tersebut juga berdiri kota-kota yang jumlah penduduknya menandingi ibu kota modern, bahkan penduduk kota Kordoba sendiri saat itu mencapai satu juta jiwa.
Kesaksian objektif dari seorang warga Spanyol bernama Ibáñez mengenai daulah Arab Islam di Semenanjung Andalusia ini merupakan sari pati sejarah yang telah disepakati bersama. Hal ini bukan sekadar ucapan pujian penuh kekaguman dari seorang pria yang bertindak adil.
Oleh karena itu, terima kasih diucapkan kepada ilmuwan Spanyol yang telah mengakui kebenaran dan menyatakan kenyataan yang sejujurnya.[]
Sumber: Atsarul Arab fil Hadharatil Uruppiyyah, karya Abbas Mahmud al-Aqqad.
