PBNU Integrasikan Ilmu Modern dan Pengasuhan Ramah Anak di Lingkungan Pesantren

 PBNU Integrasikan Ilmu Modern dan Pengasuhan Ramah Anak di Lingkungan Pesantren

Ketum PBNU Gus Yahya di Pondok Pesantren Darul Ilmi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (11/8/2026). [ANTARA]

Banjarbaru (Mediaislam.id) — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mematangkan transformasi lembaga pendidikan Islam melalui penguatan model pendidikan komprehensif. Langkah ini dibarengi dengan pengembangan konsep Pesantren Ramah Anak guna menjawab tantangan zaman.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan, pesantren mewarisi tradisi luhur yang membina tiga dimensi manusia sekaligus secara seimbang. Dimensi tersebut mencakup kesehatan jasmani, kecerdasan akal, dan kedekatan rohani.

“Pendidikan jasmani diarahkan untuk membentuk tubuh yang sehat dan kuat, sedangkan pendidikan akal dilakukan dengan mengisi dan mengasah kemampuan berpikir melalui berbagai pengetahuan agar santri tumbuh menjadi pribadi yang cerdas,” ujar Gus Yahya pada kegiatan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Darul Ilmi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (11/08/2026) dikutip dari ANTARA.

Gus Yahya menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan agar santri mampu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat. Pendidikan tidak boleh berhenti hanya pada penguasaan materi hafalan semata.

Baca juga: Wujudkan Pesantrenku Aman, PBNU Perkuat 20 Pesantren di Kalimantan Selatan

Menurutnya, penguatan akal tersebut harus disempurnakan dengan pembinaan jiwa melalui tradisi riyadah keagamaan yang kuat. Aspek spiritual menjadi fondasi utama agar santri tidak kehilangan arah dalam melangkah.

“Yang lebih mendasar lagi dari masalah akal, dalam tradisi pesantren kita, kita mempunyai tradisi mendidik roh, tradisi mengasuh roh dari santri-santri,” katanya.

Ia melanjutkan bahwa perkembangan sains dan teknologi menuntut kurikulum pesantren untuk terus beradaptasi. Saat ini, para santri tidak hanya mendalami Al-Qur’an dan fikih, tetapi juga mempelajari matematika, fisika, hingga biologi.

Penguasaan berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum ini penting agar santri memiliki daya saing tinggi. Hal ini sekaligus mencegah santri merasa asing saat terjun dan berbaur di tengah masyarakat.

“Karena itu, santri dan santriwati harus mengerti berbagai macam hal yang bersifat baik, supaya kita tidak menjadi orang asing di tengah-tengah masyarakat,” ujar Gus Yahya.

Penguatan Konsep Pesantren Ramah Anak

Sejalan dengan pengayaan sains dan spiritual, PBNU juga mendesak seluruh pengasuh untuk menata kembali pola pengasuhan melalui konsep Pesantren Ramah Anak. Konsep ini mencakup penataan ulang sistem pendidikan, kurikulum, hingga tata letak arsitektur bangunan pesantren.

Gus Yahya meluruskan bahwa istilah tersebut hadir bukan untuk membedakan antara pesantren yang ramah dan tidak ramah. Istilah ini merupakan komitmen bersama untuk menjamin keamanan serta mencegah berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.

“Pesantren Ramah Anak itu bukan berarti ada pesantren yang ramah dan ada yang tidak ramah ya,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − twelve =