Muhammad Rasyid Ridha, Sang Shahibul Manar
Syekh Muhammad Rasyid Ridha
Kepergiannya ke Mesir
Di awal Rajab 1315 H, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha pergi ke Mesir, membawa cita-citanya untuk mendirikan sebuah media Islam di sana. la meminta maat kepada Sayyid Abdul Qadir Al-Qabani, pemilik koran “Tsamrat Al-Funun”, karena harus menolak tawarannya untuk menjadi pimpinan di koran itu. la menilai, saat itu tidak tercipta iklim kebebasan yang mnendukung tekadnya menyuarakan perdamaian.
Namun, ia berfirasat kuat-tentu setelah mengkaji dan mendalami banyak hal-bahwa suatu saat nanti akan ada masa-masa perdamaian. Di situlah ia akan berperan untuk membangunkan. Dan, Islam sangatlah membutuhkan orang-orang yang dapat mengambil peran itu.
Hubungannya dengan Syekh Muhammad Abduh dan Terbitnya Al-Manar
Setibanya di Mesir, ia langsung menghubungi Al-Ustadz Al-Imam Syekh Muhammad Abduh yang telah merindukannya. Begitu pula sebaliknya. Ia pun telah merindukan metodologi ishlah (reformasi) yang diikuti bersama Ustadz Sayyid Jamaluddin Al-Afghani.
Semenjak menuntut ilmu di Tripoli Syam, ia pun sudah kecanduan untuk senantiasa membaca majalah mereka berdua: “Al-Urwah Al-Wutsqa.”
Sewaktu Syekh Muhammad Abduh berkunjung ke Lebanon, ia mendapat kehormatan menyambut dan duduk bersamanya, berkeliling di Tripoli, dan bertukar pikiran mengenai metodologi majalah yang ingin diterbitkannya, termasuk dalam pemilihan namanya.
Syekh Muhammad Abduh menyodorkan beberapa nama, termasuk “Al-Manar” yang akhirnya terpilih. Rasyid Ridha berkata, “Untuk edisi perdana, saya menulisnya dengan pensil di Masjid Jami’ Al-Isma’ili, di dekat rumah Al-Ustadz (Muhammad Abduh) di An-Nashiriyyah. Setelah itu, saya membawanya ke rumah beliau. Saat saya perlihatkan, ia menyukainya.”
Singkat kata, antara dirinya dan Ustadz Syekh Muhammad Abduh seperti satu jiwa dalam dua raga. Masing-masing sudah saling terbuka, saling memotivasi, saling berbuat, melakukan pembaharuan, dan menulis. Syekh Rasyid Ridha adalah orang pertama yang menyandangkan sebutan Al-Ustadz Al-Imam kepada Syekh Muhammad Abduh.
Amir Syakib Arslan berkata, “Ia (Rasyid Ridha) telah menjadikannya (Muhammad Abduh) imam, bergaul dengannya, dan mendirikan Majalah Al-Manar dengannya sebagai wadah pemikirannya di bidang reformasi agama dan sosial. Juga kebangkitan ilmu pengetahuan dan politik.”
Begitulah, tidak lama berselang, Majalah Al-Manar telah menjadi sesuatu yang sangat berharga di hati umat Islam. Pengaruhnya terbilang besar dalam proses penyadaran secara umum. Juga dalam penyemaian benih-benih kebangkitan, terutama di bidang pemikiran dan politik. Jadilah “Al-Manar” majalah Islam pertama di dunia sebagai argumentasi dan rujukan. Dan, ia pun menjadi tumpuan generasi muda dalam tema syariah dan persoalan kekinian.
Syekh Rasyid Ridha gigih menerbitkan Majalah Al-Manar dari tahun 1315 hingga 1354, tanpa rasa lelah dan jemu. Di situlah ia menuangkan ringkasan pengalaman, pemikiran, ilmu, dan fatwanya, sampai-sampai kaum orientalis menganggapnya “simbol Islam yang patut diperhitungkan.”
