Makna Agung Haji Wada’
Ilustrasi: Sebagian jemaah haji 1445 H di Masjidil Haram, Mekkah.
Makna Agung dari Haji Rasulullah Saw
Haji Rasulullah Saw ini memiliki makna yang sangat besar yang berkaitan dengan dakwah Islam, kehidupan Nabi Saw, dan sistem Islam.
Kaum Muslimin telah belajar dari Rasulullah Saw tentang shalat dan segala hal yang berkenaan dengan peribadahan dan kewajiban mereka. Saat itu, Nabi Saw tinggal mengajarkan kepada mereka manasik dan cara pelaksanaan ibadah haji, setelah tradisi-tradisi jahiliah yang biasa dilakukan pada musim-musim haji itu dihapuskan oleh Nabi Saw bersamaan dengan penghancuran berhala yang ada di dalam Baitullah.
Ajakan untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah tetap berlaku hingga hari kiamat. Ia adalah ajakan Abul Anbiya’, Ibrahim as berdasarkan perintah dari Allah SWT. Akan tetapi, berbagai penyimpangan jahiliah dan kesesatan kaum penyembah berhala telah menambahkan kedalaman berbagai tradisi yang batil dan mencampurnya dengan berbagai bentuk kekafiran dan kemusyrikan.
Islam kemudian datang untuk membersihkan ibadah ini sehingga menjadi bersih kembali dan memancarkan cahaya tauhid serta dilakukan atas dasar ubudiyah secara mutlak kepada Allah.
Karena itu, Rasulullah Saw mengumumkan ibadah haji. Karena itu pula, orang-orang datang dari segala penjuru ingin melaksanakan ibadah haji bersama beliau agar dapat melakukan amalan-amalan ibadah haji secara benar dan tidak terjerumus melakukan sisa-sisa tradisi jahiliah.
Tampaknya Nabi Saw telah diberi suatu isyarat bahwa tugasnya di muka bumi sudah hampir selesai. Amanat (dakwah Islam) telah tersampaikan, bumi Jazirah telah penuh dengan tanaman tauhid, dan Islam pun telah menyebar serta menyerbu hati manusia di setiap tempat.
Kaum Muslimin yang pada hari itu sudah berjumlah banyak dan menyebar di berbagai penjuru sangat merindukan pertemuannya dengan Rasul mereka dan ingin mendapatkan nasihat-nasihat serta petunjuknya. Demikian pula Rasulullah Saw sangat merindukan pertemuan dengan mereka, terutama dengan lautan manusia yang baru saja masuk Islam dari berbagai penjuru Jazirah Arabiah yang belum pernah mendapatkan kesempatan yang cukup untuk bertemu dengan beliau.
Kesempatan yang paling besar dan paling indah untuk pertemuan tersebut hanyalah didapatkan dalam kesempatan ibadah haji ke Baitullah dan di Padang Arafah. Pertemuan antara umat dan Rasulnya di bawah naungan salah satu syiar Islam yang terbesar. Pertemuan yang menurut pengetahuan Allah dan ilham Rasul-Nya sebagai pertemuan tausiyah (nasihat) dan wada’ (perpisahan).
Rasulullah Saw juga ingin bertemu dengan rombongan kaum Muslimin yang datang sebagai hasil jihad selama 23 tahun, guna menyampaikan kepada mereka tentang ajaran Islam dan sistemnya dalam suatu ungkapan yang singkat, tetapi padat, dan nasihat yang ringan, tetapi sarat dengan ungkapan perasaannya dan getaran-getaran cintanya terhadap umatnya. Dari wajah-wajah mereka, Rasulullah Saw ingin melihat potret akan datang sehingga semua nasihat dan pesan-pesannya bisa sampai kepada mereka dari balik tembok-tembok zaman dan dinding-dinding kurun.
Itulah sebagian makna haji Rasulullah Saw: Hijjatul Wada’ (haji perpisahan). Makna ini akan Anda saksikan secara jelas di dalam khotbahnya yang disampaikan di lembah Uranah pada hari Arafah. [SR]
Sumber: Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Sirah Nabawiyah; Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw. (Terjemah). Jakarta: Robbani Press, 2010. Hal. 488-490.
