LBH Keadilan Rakyat Gelar Peringatan Maulid Nabi
Ia menilai persoalan tersebut bukan semata ekonomi, melainkan akibat umat menjauh dari ajaran Rasulullah SAW dan meninggalkan ulama sebagai pewaris ilmu.
Menurutnya, penjajahan masa kini tidak lagi hadir dalam bentuk perang fisik, melainkan melalui neo-kolonialisme yang bekerja lewat politik, ekonomi kapitalis liberal, dan infiltrasi pemikiran sekulerisme, pluralisme, liberalisme, serta berbagai ideologi yang melemahkan umat.
Ia juga menyayangkan munculnya fitnah besar terhadap pondok pesantren yang digambarkan sebagai tempat penyimpangan seksual, padahal pesantren selama ini menjadi benteng pendidikan akidah dan moral bangsa. Kalaupun ada kasus, itu hanya ada di satu dua pesantren saja, tapi dengan fitnah ini seolah-olah semua pesantren bermasalah.
“Ketika ulama ditinggalkan dan pesantren terus dijelekkan, keberkahan negeri ikut terangkat. Negara kaya, tetapi rakyatnya miskin. Itu peringatan yang harus kita renungkan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Babah Chaerul mengajak umat Islam menjadikan Maulid sebagai titik awal perubahan yang dilakukan dengan kesabaran, ilmu, dan ketaatan kepada syariat Islam.
Ia menegaskan bahwa Islam telah menyediakan pedoman kehidupan yang lengkap, sehingga kebangkitan bangsa hanya mungkin lahir apabila umat kembali kepada ajaran Islam yang sempurna, menghormati ulama, memuliakan orang tua dan guru, serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama.
“Mudah-mudahan dengan Maulid ini kita menjadi pribadi yang lebih baik, umat semakin bersatu, dan bangsa Indonesia kembali bermartabat di bawah petunjuk Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya. []
