Larangan dalam Tasharruf Harta: Israf-Tabdzir, Taraf dan Bakhil

 Larangan dalam Tasharruf Harta: Israf-Tabdzir, Taraf dan Bakhil

Ilustrasi

Dan firman-Nya:

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ وَلَا تُضَاۤرُّوْهُنَّ لِتُضَيِّقُوْا عَلَيْهِنَّۗ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuan, dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati mereka.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 6)

Telah datang Hindun kepada Rasulullah Saw., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang bakhil. Dia tidak memberi nafkah kepadaku yang cukup bagiku dan bagi anakku. Maka, kata Rasulullah Saw, “Ambillah (dari hartanya) apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.”

Rasulullah Saw memberikan hak kepada Hindun untuk mengambil sendiri harta itu tanpa sepengetahuan Abu Sufyan, bila Abu Sufyan tidak memberikan nafkah kepadanya. Sebab, menafkahi Hindun dan anaknya itu wajib bagi Abu Sufyan. Hakim harus mewajibkan nafkah tersebut. Demikian pula orang yang memegang nafkah, wajib menafkahkannya pada apa yang wajib baginya.

Apabila nafkah bagi anak-anak itu wajib dan diperintahkan untuk diberikan kepada siapa yang memelihara mereka, baik yang memelihara itu ibu ataupun orang lain, maka nafkah tersebut harus diberikan kepadanya (pemelihara). Bila tidak diberikan, maka hakim akan memaksanya agar diberikan. [SR]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 7 =