Kiai Didin: Pertemuan Ulama dengan Prabowo Lebih Bersifat Monolog

 Kiai Didin: Pertemuan Ulama dengan Prabowo Lebih Bersifat Monolog

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc

Bogor (Mediaislam.id) – Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, MS menyampaikan catatan kritis terkait pertemuan para ulama dan pimpinan organisasi masyarakat Islam dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka beberapa hari lalu.

Kiai Didin mengungkapkan bahwa dirinya termasuk salah satu tokoh yang diundang dalam acara berbuka puasa bersama di Istana yang berlangsung pada Kamis (5/3/2026) malam.

Menurutnya, sekitar 150 tokoh hadir dalam pertemuan tersebut, yang terdiri dari para kiai, ulama, serta pimpinan organisasi Islam dari berbagai daerah. Namun, Kiai Didin menilai pertemuan itu lebih bersifat monolog dibanding dialog.

“Saya juga termasuk yang diundang oleh Presiden pada malam itu ke Istana. Ada sekitar 150 tokoh, para kiai, ulama, dan pimpinan ormas. Tetapi yang terjadi bukan dialog, melainkan monolog. Presiden menyampaikan pandangannya, sementara kami tidak diberikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat,” ujar Kiai Didin saat menjawab pertanyaan jamaah dalam kajian Ahad pagi (8/3/2026) di Masjid Ibn Khaldun Bogor.

Meski demikian, ia menyebut ada satu perwakilan peserta yang diberikan kesempatan menyampaikan pandangan, yakni Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa persoalan yang menyangkut kepentingan umat Islam tidak boleh diabaikan.

Salah satu isu yang disorot adalah kondisi Masjid Al-Aqsha di Palestina yang dinilai harus tetap dijaga dari upaya penguasaan oleh Israel.

“Hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umat tidak boleh kita abaikan di mana pun kita berada. Termasuk Masjid Al-Aqsha di Palestina, jangan sampai direbut oleh Israel, karena itu merupakan amanat konstitusi sekaligus amanat agama,” kata Kiai Didin.

Ia juga mengakui bahwa Presiden Prabowo menyampaikan pidato yang cukup panjang dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, presiden berbicara hampir tiga jam penuh.

“Jarang ya orang yang berbicara sampai tiga jam itu. Makanya wajar kalau ada yang mengatakan omon-omon saja, wajar karena memang bicaranya luar biasa. Tapi apapun juga yang dinilai itu realitasnya,” tutur Kiai Didin.

Meski demikian, Kiai Didin melihat ada pelajaran penting bagi umat Islam. Ia menilai umat tidak boleh hanya bergantung pada satu tokoh atau pemimpin dalam memperjuangkan kepentingan umat.

Menurutnya, kebangkitan umat harus dibangun melalui pendekatan kultural di tengah masyarakat. “Saya melihat hikmahnya bahwa umat ini tidak boleh hanya mengandalkan seseorang. Umat harus bangkit secara menyeluruh. Dakwah secara kultural harus terus kita lakukan,” katanya.

Ia menambahkan, jika jalur struktural atau politik menghadapi berbagai keterbatasan, maka penguatan umat harus dilakukan melalui peningkatan pemahaman keagamaan di tengah masyarakat.

“Kalau secara struktural agak sulit, maka kita bangun secara kultural dan budaya. Kita tingkatkan pemahaman umat dengan meramaikan majelis taklim dan masjid-masjid,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah ulama dan pimpinan ormas Islam dalam acara berbuka puasa bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Pertemuan tertutup tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan dihadiri ratusan tokoh dari berbagai organisasi Islam di Indonesia. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 10 =