Khutbatul ‘Arsy Darunnajah, Meneguhkan Tradisi Pesantren untuk Pencetakan Karakter Bangsa

 Khutbatul ‘Arsy Darunnajah, Meneguhkan Tradisi Pesantren untuk Pencetakan Karakter Bangsa

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta membuka tahun pelajaran 2026/2027 dengan menggelar Khutbatul ‘Arsy di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Jakarta (Mediaislam.id)—Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta resmi membuka tahun pelajaran 2026/2027 melalui tradisi pendidikan tahunan Khutbatul ‘Arsy di Ulujami, Jakarta Selatan. Agenda penyegaran nilai ini berlangsung selama empat babak pada 5–8 Agustus 2026 di GOR Darunnajah.

Khutbatul ‘Arsy bukan sekadar orientasi siswa baru, melainkan mekanisme pembinaan rutin yang wajib diikuti seluruh santri dan dewan guru. Melalui pidato pimpinan, seluruh warga pesantren diajak memahami kembali sejarah, visi, sistem pendidikan, hingga kedisiplinan lembaga.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Prof. KH Sofwan Manaf, menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga perjuangan umat yang berdiri di atas tanah wakaf dan doa para pendiri.

“Khutbatul ‘Arsy adalah tradisi pendidikan pesantren yang menjelaskan secara menyeluruh hakikat pesantren kepada seluruh warganya, mulai dari sejarah, visi, sistem pendidikan, disiplin, dan alasan di balik setiap aturan,” kata Prof. KH Sofwan Manaf di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

“Lulusannya siap menjadi pemimpin umat di masa depan,” ujar Sofwan dikutip dari ANTARA.

Sofwan menilai sistem pengasuhan pesantren selaras dengan agenda pemerintah dalam membangun sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Pembentukan delapan karakter utama bangsa hanya dapat terwujud melalui pembiasaan hidup konsisten yang diulang selama bertahun-tahun.

“Di sini titik temu tradisi pesantren dan agenda nasional secara alamiah,” tutur Sofwan.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah sekaligus Rektor Universitas Darunnajah, KH Hadiyanto Arief, menambahkan bahwa kekuatan utama pesantren terletak pada kurikulum kehidupan yang tidak tertulis. Menurutnya, kebiasaan hidup mandiri dan tahan uji menjadi keunggulan utama lulusan pesantren saat menerjunkan diri ke masyarakat.

“Kualitas seperti inilah yang paling dibutuhkan pada 2045, dan justru yang paling sulit dibentuk secara instan,” tegas Hadiyanto.

Hadiyanto menggarisbawahi pentingnya disiplin diri sebagai investasi jangka panjang para santri dalam menghadapi tantangan dunia luar. Aturan pesantren dirancang sebagai sarana latihan agar santri terbiasa taat pada hukum dan norma kehidupan sosial di mana pun mereka berada.

“Santri diajak memahami bahwa aturan pesantren bukan pembatas, melainkan latihan menghadapi kehidupan yang di mana pun memiliki aturannya sendiri, di jalan raya, di tempat kerja, hingga di ruang publik,” imbuh Hadiyanto. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 12 =